90 Persen Anak di 3T Tak Paham Bahasa Indonesia

, Jurnalis
Jum'at 28 Agustus 2015 17:07 WIB
Anak-anak Papua saat menuju sekolah mereka (foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Hambatan terbesar yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan di daerah-daerah terpencil di Indonesia ternyata adalah masalah bahasa. Terutama di daerah dengan penggunaan monolingual yang menyebabkan penyerapan pendidikan menjadi lebih minim dan berimbas pada kemungkinan putus sekolah yang lebih besar.

Dari hasil studi yang dilakukan oleh Summer Institute of Linguistic (SIL) Interasional, menemukan bahwa 90 persen anak di daerah terpencil atau dikenal dengan daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) tidak dapat berbahasa Indonesia. Hal ini yang membuat mereka kesulitan untuk menangkap arus informasi pendidikan.

Country Director SIL Veni menuturkan, karena itu penggunaan bahasa ibu sangat penting untuk digunakan sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Ini khususnya penting dilakukan di daerah-daerah terpencil.

"Hambatan anak di daerah pedalaman adalah bahasa. Mereka bukan bodoh, namun mereka tidak mengerti bahasa (Indonesia). Karena ketika proses pembelajaran disampaikan bukan dengan bahasa ibu mereka atau bahasa daerah, beban mereka bertambah. Tidak hanya harus memahami isi konsep pendidikan, mereka juga harus memahami bahasa Indonesia. Kondisi ini nyata dan sangat disayangkan jika hambatan percepatan pendidikan adalah bahasa," ujarnya di Jakarta.

Kendala bahasa dalam proses pembelajaran, paling banyak ditemui di daerah Papua. Diketahui sebagian besar penduduk asli Papua dan Papua Barat adalah penutur tunggal bahasa ibu. Total, Papua dan papua Barat memiliki 275 ragam bahasa yang berbeda.

Bukti komunikasi yang terputus dalam proses pembelajaran di sana, terbukti dari studi yang dilakukan British Petroleum di Teluk Bintuni. Diketahui 95 persen lulusan sekolah dasar di sana adalah buta aksara secara fungsional.

Artinya, mereka dapat mengeja huruf namun tidak memahami makna kata ataupun paragraf yang dibacanya. Dengan penggunaan bahasa ibu, maka materi ajar yang dipelajari anak-anak akan lebih mudah dipahami.

(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya