JAKARTA - Hambatan terbesar yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan di daerah-daerah terpencil di Indonesia ternyata adalah masalah bahasa. Terutama di daerah dengan penggunaan monolingual yang menyebabkan penyerapan pendidikan menjadi lebih minim dan berimbas pada kemungkinan putus sekolah yang lebih besar.
Dari hasil studi yang dilakukan oleh Summer Institute of Linguistic (SIL) Interasional, menemukan bahwa 90 persen anak di daerah terpencil atau dikenal dengan daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) tidak dapat berbahasa Indonesia. Hal ini yang membuat mereka kesulitan untuk menangkap arus informasi pendidikan.
Country Director SIL Veni menuturkan, karena itu penggunaan bahasa ibu sangat penting untuk digunakan sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Ini khususnya penting dilakukan di daerah-daerah terpencil.
"Hambatan anak di daerah pedalaman adalah bahasa. Mereka bukan bodoh, namun mereka tidak mengerti bahasa (Indonesia). Karena ketika proses pembelajaran disampaikan bukan dengan bahasa ibu mereka atau bahasa daerah, beban mereka bertambah. Tidak hanya harus memahami isi konsep pendidikan, mereka juga harus memahami bahasa Indonesia. Kondisi ini nyata dan sangat disayangkan jika hambatan percepatan pendidikan adalah bahasa," ujarnya di Jakarta.