JAKARTA – Selepas perang Kemerdekaan 1945, Kota Semarang gegap gempita, namun di balik itu kualitas pendidikan masih sangat terbatas. Tokoh-tokoh muda bidang hukum di Semarang mencoba putar otak bagaimana memajukan pendidikan dengan menghadirkan sebuah universitas.
Kisah ini pun diawali dari empat orang jaksa yang mempunyai ide mendirikan Universitas Semarang hingga kemudian dikenal dengan Universitas Diponegoro (Undip). Kala itu, Imam Bardjo seorang Kepala Kejaksaan atau Pengawas Kejaksaan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, bermimpi ingin mendirikan universitas di Semarang. Hanya mengandalkan seorang diri, ia belum percaya diri.
Imam Bardjo akhirnya mengandeng tiga orang jaksa lain di Semarang yakni Sudarto, Soesanto Kartoatmodjo, dan Dan Soelaiman. Ke empat jaksa ini berembuk bagaimana menghadirkan sebuah universitas terbaik di Semarang.
9 Januari 1957, Universitas Semarang akhirnya berdiri sebagai kampus swasta. Dalam perjalanan, Universitas Semarang berubah nama menjadi Universitas Diponegoro (Undip) pada 15 Oktober 1960. Penyematan Universitas Diponegoro diambil dari nama seorang pangeran di Jawa Tengah yang juga adalah pahlawan nasional yakni Pangeran Diponegoro.
Sebelum berganti menjadi Undip, nama Universitas Semarang masih lekat digunakan usai berdiri sehingga mendapat tanggapan dan bantuan dari berbagai pihak, khususnya masyarakat Semarang, Pemda Propinsi Jawa Tengah, serta Pemkot Semarang. Jasa empat jaksa itu banyak dipuji oleh warga Semarang dan pemerintah daerah saat itu.