Perjuangan Anak Penarik Becak Menginjakkan Kaki di UGM

, Jurnalis
Jum'at 14 Agustus 2015 19:09 WIB
Sudarmono mahasiswa baru UGM (duduk diatas becak) - foto: UGM)
Share :

YOGYAKARTA – Di atas kursi becak, Sudarmono menyeka keringat di dahinya. Dari perjalanan jauh bersama ayahnya, Wagiman, yang mengayuh becak, keduanya akhirnya tiba di pelataran Universitas Gajah Mada (UGM), Kamis 13 Agustus 2015. Di ruangan tersediri, Sudarmono menceritakan bagaimana sampai akhirnya bisa menjadi mahasiswa UGM.

Untuk meraih sebuah kesuksesan diperlukan perjuangan yang lebih dari biasanya. Hal ini dikatakan oleh Sudarmono, alumnus SMA 1 Bayat, Klaten yang telah diterima di Fakultas Peternakan UGM melalui jalur SNMPTN program Bidikmisi 2015. Komitmen itu selalu dipegang teguh oleh Sudarmono terutama setelah duduk di bangku SMA.

“Ketika teman-teman sibuk refreshing saya masih fokus untuk mencari beasiswa masuk ke UGM. Memang, untuk mencapai sebuah kesuksesan diperlukan perjuangan lebih dibandingkan orang lain,” papar Sudarmono, sebagaimana dikutip Okezone dari laman UGM, Jumat (14/8/2015).

Anak pasangan Wagiman dan Mursiyem ini sejak SD hingga SMA sudah menunjukkan prestasi akademik. Selain meraih ranking 1-3, Sudarmono juga pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang fisika dan kimia, lomba cerdas cermat dan lomba pidato. Ia pun cukup aktif di OSIS maupun kerohanian Islam sekolah (Rohis).

“Masa SMA merupakan masa-masa sulit bagi saya untuk mengejar cita-cita yang sudah saya impikan sejak SMP untuk kuliah UGM,” kata pria kelahiran 24 Agustus 1997 itu.

Sudarmono adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Wagiman, adalah penarik becak yang biasa mangkal di Jalan Suryopranoto, Gunungketur, Pakulaman. Sementara ibunya, Mursiyem, sehari-hari bertani dan mengurus beberapa ekor ternak di rumahnya Mranggen, Dukuh, Bayat, Klaten.

Dari lima bersaudara tersebut Sudarmonolah yang akhirnya bisa mengenyam bangku di perguruan tinggi. Saudaranya yang lain ada yang berjualan di angkringan, pabrik sepatu, bertani maupun jualan buah.

“Saya saja hanya sampai SD, Mas. Makanya, kami bangga Sudarmono bisa diterima di UGM,” kata Wagiman.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr Senawi bangga Sudarmono bisa diterima di UGM. Ia melihat Sudarmono memiliki kecerdasan emosional, spiritual, dan intelektual yang dapat dibanggakan.

“Sudarmono tidak sendiri. Di UGM, banyak temannya yang senasib namun berprestasi sehingga jangan berkecil hati,” kata Senawi.

Dalam kesempatan itu, Senawi menjelaskan bahwa kuota penerima Bidikmisi di UGM tahun ini mencapai 820 mahasiswa. Kuota ini sebenarnya masih kurang jika melihat jumlah mahasiswa yang orangtuanya berpenghasilan di bawah Rp1 juta masih cukup banyak hingga 809 orang.

“UGM akan berusaha memperjuangkan agar kuotanya bisa bertambah. Kalaupun tidak kita berusaha carikan dari donatur atau sumber-sumber lainnya,” tegas Senawi.

Sudarmono bersama ribuan calon mahasiswa lainnya akan segera mengenyam bangku kuliah di UGM. Untuk menyambut mahasiswa baru ini, UGM telah menyiapkan Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) PALAPA 2015 yang akan berlangsung 18-23 Agustus 2015.

(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya