"Saat mengetahui hanya sebagian kecil saja yang menurunkan bendera ada beberapa anggota paskibra yang menangis dan merajuk agar bisa ikut menurunkan bendera," katanya.
Sarjana Ilmu Geografi ini merasa cukup terharu dan bangga lantaran merasakan tumbuhnya bibit-bibit nasionalisme pada diri siswa di daerah perbatasan tersebut. Dia mengaku beruntung dapat merasakan pengalaman luar biasa ketika mengabdi di perbatasan Tanah Air.
"Kami berharap agar kuncup-kuncup itu menjadi bunga yang bermekaran, menghiasi pagar terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia," tuturnya.
Kisah tentang upacara bendera hanyalah satu dari sekian banyak pengalaman yang dipetik Eko selama menjadi guru SM3T di pedalaman Borneo. Selama setahun, Eko ditempatkan sebagai guru di SMAN 9 Malinau, Long Ampung, Kayan Selatan, Malinau, Kalimantan Utara.
Selain nasionalisme, hal lain yang mengusiknya adalah persebaran pendidikan yang masih belum merata di Tanah Air. Misalnya dari segi fasilitas dan akses ke sekolah. Dia bercerita, hatinya trenyuh ketika tiba pertama kali di sekolah tempatnya mengabdi.