“Saya rela mengorbankan apa pun asalkan Natalia dapat menyelesaikan studinya di Unnes sampai akhir. Kalau bisa haknya sebagai mahasiswa difabel lebih diperhatikan darimahasiswa pada umumnya, baik untuk kuliah maupun untuk fasilitas lainnya di Unnes,” papar Herlambang.
Masukan tersebut ditanggapi secara positif oleh Rektor Unnes, Fathur Rokhman. Dia mengatakan sebisa mungkin menyediakan fasilitas pendukung bagi mahasiswa difabel. Meskipun, lanjutnya, Unnes tidak pernah membeda-bedakan mahasiswa penyandang disabilitas dengan mahasiswa lainnya, termasuk dalam proses seleksi.
“Ketika mereka masuk Unnes, kami berikan sedapat mungkin kemudahan. Tidak ada diskriminasi. Kami berupaya semaksimal mungkin menyediakan akses pendidikan terbaik bagi mahasiswa penyandang disabilitas di Unnes. Contohnya, ketika dalam sebuah kelas terdapat mahasiswa penyandang disabilitas, perkuliahan dapat berlangsung di lantai dasar agar tidak menyulitkan,” urai Fathur.
Wujud komitmen lainnya adalah dengan mengusahakan beasiswa bagi penyandang disabilitas, sepanjang mereka membutuhkan. Bahkan, jurusan sastra Inggis juga siap mendampingi mahasiswa penyandang disabilitas.
“Bentuk pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa,” kata Dosen Wali Natalia, Prayudias Margawati.
(Margaret Puspitarini)