JAKARTA - Program Sekolah Unggul Garuda menunjukkan capaian positif dalam mendorong siswa Indonesia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama dunia. Jumlah siswa Sekolah Unggul Garuda Transformasi yang berhasil diterima di kampus terbaik luar negeri meningkat 177 persen dalam satu tahun.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintahan M. Qodari mengatakan, jumlah siswa yang lolos seleksi perguruan tinggi luar negeri meningkat dari 140 siswa pada tahun ajaran 2024-2025 menjadi 388 siswa pada tahun ajaran 2025-2026.
"Dampak yang sudah terukur jelas dari program ini adalah lonjakan siswa Sekolah Unggul Garuda transformasi yang berhasil lulus seleksi masuk perguruan tinggi luar negeri terbaik dunia, naik 177 persen dari 140 siswa pada tahun ajaran 2024-2025 yang lalu menjadi 388 siswa pada tahun 2025-2026," kata Qodari dalam Konferensi Pers Update Program Prioritas/PHTC serta Arah Kebijakan RAPBN 2027, Rabu (19/8/2026).
Para siswa tersebut berhasil menembus sejumlah perguruan tinggi bergengsi, di antaranya University of California Berkeley, Nanyang Technological University, University of Toronto, University of Oxford, dan Wageningen University.
Pemerintah juga memberikan dukungan melalui Beasiswa Garuda 2026. Program tersebut tercatat memfasilitasi 515 penerima untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi unggulan.
Australia menjadi negara tujuan dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 138 orang. Selanjutnya, Singapura sebanyak 72 penerima, Kanada 70 orang, serta perguruan tinggi di Indonesia sebanyak 140 penerima.
Qodari mengatakan, program Sekolah Unggul Garuda memiliki dasar hukum melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 116 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan SMA Unggul Garuda. Perpres tersebut ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 20 November 2025.
Program ini diarahkan untuk memperluas akses pendidikan berkualitas, membentuk karakter kepemimpinan, serta menggabungkan pencapaian akademik dengan pengabdian kepada masyarakat.
"Sekolah Unggul Garuda berpijak pada Perpres Nomor 116 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan SMA Unggul Garuda yang diteken oleh Presiden Prabowo pada 20 November 2025. Sebagai komitmen pemerintah untuk menyiapkan SDM unggul di bidang sains dan teknologi agar lulusannya mampu menembus perguruan tinggi terbaik di dunia," ujar Qodari.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menjalankan dua skema, yakni Sekolah Unggul Garuda baru dan Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT).
Untuk skema Sekolah Unggul Garuda baru yang dikelola sebagai satuan kerja Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, terdapat empat sekolah perintis yang telah beroperasi pada tahun ajaran 2025-2027.
Keempat sekolah tersebut berada di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung; Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur; Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara; serta Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Qodari mengungkapkan, Sekolah Unggul Garuda baru menerima 307 peserta didik pada tahun ajaran 2026-2027. Jumlah tersebut terdiri atas 150 siswa dan 157 siswi.
"Sekolah Unggul Garuda baru mencatatkan 307 peserta didik baru untuk tahun ajaran 2026-2027, yang terdiri dari 150 siswa dan 157 siswi. Jadi 49 banding 51 persen. Yang diseleksi dari 3.935 pendaftar yang lolos verifikasi tahap pertama. Jadi ini seleksinya sangat ketat," ungkap Qodari.
Sementara itu, melalui skema transformasi, pemerintah telah menetapkan 42 sekolah yang menerima program pengayaan. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di 15 provinsi.
Pemerintah menargetkan jumlah Sekolah Unggul Garuda Transformasi dapat berkembang hingga mencapai 80 sekolah dalam kurun waktu lima tahun atau sampai 2028.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik