Negara dengan tingkat penyakit menular yang tinggi cenderung memiliki skor tes kognitif lebih rendah karena berdampak pada tumbuh kembang dan pendidikan anak.
Anak dengan asupan gizi yang baik umumnya menunjukkan kemampuan kognitif lebih tinggi. Negara dengan masalah kekurangan pangan sering kali memiliki skor rata-rata lebih rendah.
Aktivitas seperti bermain catur, membaca, dan penggunaan lebih dari satu bahasa dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir dan penalaran.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor keturunan berperan dalam perbedaan IQ di dalam satu populasi. Namun, hal ini tidak bisa digunakan untuk menjelaskan perbedaan antarnegara secara langsung.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)