Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemerintah Targetkan 1.000 Penerima Beasiswa S2, Bakal Tempuh Pengabdian di 154 Kawasan Transmigrasi

Jonathan Simanjuntak , Jurnalis-Minggu, 18 Januari 2026 |18:36 WIB
Pemerintah Targetkan 1.000 Penerima Beasiswa S2, Bakal Tempuh Pengabdian di 154 Kawasan Transmigrasi
Wisuda UNSIA
A
A
A

JAKARTA - Pemerintah menargetkan 1.000 penerima beasiswa magister akan menempuh pendidikan hingga pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi di Indonesia. Program ini juga menyasar lulusan perguruan tinggi berbasis full online learning di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi, Edy Gunawan mengatakan hal ini menjadi rancangan dari program 'Transmigrasi Patriot 2026' yang mengintegrasikan Tim Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot (S2) guna membentuk kawasan transmigrasi yang produktif dan mandiri secara ekonomi berbasis riset aplikatif. 

"Di tahun 2026, ditargetkan sebanyak 1.000 awardee beasiswa magister akan menempuh pendidikan selama 18 bulan, termasuk melakukan penelitian tesis dan pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi seluruh Indonesia," kata Edy Gunawan dalam acara wisuda Universitas Siber Asia (UNSIA), Minggu (18/1/2026).

Kehadiran Kementerian Transmigrasi ini turut mempertegas komitmen dalam mengakselerasi pembangunan nasional melalui sinergi dunia akademik dan teknologi digital. UNSIA, kata Edy, mewisuda 879 lulusan secara hybrid. Sebanyak 367 orang diwisuda secara onsite (langsung) dan 495 orang di antaranya terhubung secara daring dari berbagai belahan dunia termasuk Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi, UNSIA membuktikan bahwa peran pendidikan jarak jauh adalah nyata, tanpa batas, dan tanpa jarak

Kepala LLDIKTI Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan menyampaikan lulusan perguruan tinggi berbasis full online learning asal Indonesia harus memiliki DNA digital. Henri menjelaskan hal ini menurutnya penting untuk memecahkan masalah nyata di Indonesia.

"Lulusan kampus siber harus memiliki 'DNA Digital' yang menjadi keunggulan kompetitif mutlak. Di tengah disrupsi AI, ijazah saja tidak cukup. Saudara harus menjadi praktisi solutif yang mengombinasikan keahlian informatika, komunikasi, atau manajemen untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat," kata Henri. 

Rektor UNSIA, Jang Youn Cho menekankan lulusan UNSIA asal Indonesia harus menjadi pionir di era Artificial General Intelligence (AGI).

Dia juga mengumumkan pencapaian luar biasa UNSIA sebagai hub World University Ranking for Innovation (WURI) di Indonesia serta rencana menjadi Google Reference University pertama dan pionir penggunaan AI untuk pendidikan di tanah air.

"Jangan hanya menjadi 'pengguna' masa depan, jadilah 'inovator' masa depan. Di era AI ini, kecanggihan mesin justru membuat nilai kemanusiaan Anda semakin berharga. Gunakan efisiensi AI untuk memberi Anda lebih banyak waktu menjadi manusia yang lebih empati dan melayani bangsa dengan hati yang tidak dapat direplikasi oleh kode mana pun," papar Rektor Universitas Siber Asia, Jang Youn Cho.

Sebagai informasi di awal tahun 2026 Universitas Siber Asia menorehkan capaian akademik dengan diterimanya izin pembukaan Program Studi Teknologi Informasi. Izin ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, sebagai bentuk kepercayaan terhadap komitmen UNSIA dalam menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Izin pembukaan Program Studi Teknologi Informasi tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1198/B/O/2025 tentang Izin Pembukaan Program Studi Teknologi Informasi Program Sarjana melalui Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada Universitas Siber Asia di Jakarta, yang diselenggarakan oleh Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan.

Pencapaian di awal tahun ini menjadi bukti nyata konsistensi dan prestasi UNSIA dalam memperluas akses pendidikan tinggi berbasis fully online Kehadiran Program Studi Teknologi Informasi diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan sumber daya manusia unggul di bidang teknologi, sekaligus memperkuat peran UNSIA sebagai perguruan tinggi siber yang adaptif terhadap perkembangan industri dan transformasi digital global.

Melalui model perkuliahan fully online, Program Studi Teknologi Informasi UNSIA membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Fleksibilitas belajar yang memungkinkan mahasiswa kuliah kapan saja dan di mana saja menjadi keunggulan utama, sehingga pendidikan berkualitas dapat diakses tanpa batas ruang dan waktu.

Dengan dibukanya Program Studi Teknologi Informasi ini, UNSIA optimistis dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi profesional dan inovator teknologi yang berdaya saing global, sejalan dengan visi UNSIA sebagai pelopor pendidikan tinggi jarak jauh di Indonesia.

(Khafid Mardiyansyah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement