JAKARTA - Komunitas Tunanetra Berwisata menggelar kegiatan scuba diving di kolam renang Bubbles Dive Center, Kuningan, Jakarta Selatan. Kegiatan edukatif dan eksploratif ini merupakan kerja sama antara komunitas dengan Bubbles Dive.
"Uniknya, dari total 9 peserta tunanetra yang melakukan aktivitas menyelam ini, kebanyakan adalah guru dan pendidik. Tentunya ini punya tujuan tersendiri, karena para pendidik ini mengajar di berbagai lingkungan—mulai dari sekolah khusus tunanetra hingga sekolah umum," kata Juru Bicara Komunitas Sergio Kurnianto Rustan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan, para peserta tersebut merupakan sosok inspiratif bagi murid-murid mereka, yang harapannya nanti bisa membagikan pengalaman baru kepada komunitas pendidikan terutama murid murid mereka.
Mengapa diselenggarakan di kolam renang? Hal itu bukan tanpa alasan. Kolam renang memberikan lingkungan yang stabil, terkontrol, tanpa arus atau gelombang.
Ini sangat ideal untuk peserta tunanetra yang baru pertama kali mencoba scuba diving, terlebih karena mereka membutuhkan kesempatan untuk fokus pada sensasi tubuh dan teknik dasar tanpa gangguan alam.
Kedua faktor cuaca: Kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa minggu terakhir membuat penyelaman di laut kurang aman. Dengan memilih kolam renang, penyelenggara memastikan kegiatan tetap berjalan tanpa risiko tambahan.
Rustan menjelaskan, keterlibatan para pendidik tunanetra memberikan dimensi tambahan yang sangat penting. Pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan personal mereka, tetapi juga memperkaya perspektif pengajaran mereka.
Dengan mencoba sesuatu yang baru dan menantang, para guru ini akan membawa pulang cerita tentang keberanian dan inklusivitas yang dapat menginspirasi murid-murid mereka.
"Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukan hanya penerima manfaat program inklusif; mereka adalah agen perubahan, pengajar, pemimpin, dan sumber inspirasi bagi masyarakat luas," katanya.
Kegiatan menyelam bareng ini, ia melanjutkan, merupakan program ketiga dari Komunitas Tunanetra Berwisata. Sebelumnya, pada November 2024 lalu, komunitas pernah mengadakan trekking di Situ Gunung. Kemudian pada Juli 2025 ada wisata laut, snorkling dan penanaman bakau.
Lebih jauh Rustan menambahkan, komunitas ini berkomitmen menjadi pintu bagi teman-teman tunanetra untuk merasakan dunia dan bergembira menikmati alam.
Lebih jauh lagi, komunitas juga ingin membuka mata dan memberikan penyadaran bahwa akses, kebersamaan dan keberanian bisa menciptakan pengalaman yang setara bagi semua: teman awas maupun teman tunanetra.
"Walaupun scuba diving ini belum dilakukan di laut, namun kegiatan ini memiliki simbol penting: bahwa rekreasi dan aktivitas bahari dapat disediakan untuk semua orang. Dengan desain yang tepat dan kesadaran terhadap keselamatan, scuba diving dapat menjadi bagian dari dunia wisata inklusif di Indonesia. Ini adalah wujud nyata perayaan keberagaman, kesempatan, dan kesetaraan bagi semua," katanya menegaskan.
(Khafid Mardiyansyah)