JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mempercepat peluncuran aturan perlindungan anak di ruang digital. Mengingat Indonesia saat ini sebagai negara ke-4 terbesar di dunia dalam ranah konten-konten pornografi untuk anak, maka aturan ini akan segera dikeluarkan.
“Sesuai arahan dan semangat Presiden untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital yang disampaikan kepada kami beberapa waktu lalu, maka kami menindaklanjuti dengan pembentukan SK tim kerja untuk aturan atau pengaturan perlindungan anak di internet,” jelas Meutya di Jakarta, Minggu (2/2/2025).
Meutya juga menjelaskan diantara aturan tersebut akan diadakan pembatasan akses sosial media untuk usia tertentu.
SK ini di rancang melibatkan lintas kementerian termasuk kementerian PPPA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kesehatan dan Kementerian lainnya.
“SK ini sudah kita tanda tangani, dan tim akan mulai bekerja esok, Senin 3 Februari,” ungkap Meutya.
Meutya juga menambahkan bahwa Presiden Prabowo menginginkan adanya percepatan aturan perlindungan anak di ruang digital ini agar masalahnya cepat diselesaikan.
“Deadline kami diberi waktu 1 sampai 2 bulan,” pungkas Meutya.
Sementara itu Menteri Kesehatan, Budi Gunadi mengungkapkan hal ini didasari oleh 2 faktor masalah yang ingin diatasi terkait kesehatan anak usia dini.
“Ada dua masalah kesehatan di anak yang terkait dengan media sosial atau digital yang berlebihan,” ungkap Budi pada Minggu (2/2/2025).
“Ada dua jenis penyakit mental yaitu anxiety disorder kemudian depression disorder yang kita amati banyak terjadi di anak anak sekarang,” ungkap Budi.
Hal ini diakibatkan oleh anak-anak zaman sekarang yang sudah mulai terlalu terekspos dengan media sosial yang berlebihan. Sehingga bisa mempengaruhi anak-anak melihat atau menonton sesuatu yang berdampak pada kesehatan mental dan jiwanya.
“Bisa dalam bentuk Bullying, bisa dalam bentuk ajakan melakukan sesuatu yang tidak benar, itu terjadi,” tambah Bud
Untuk menindaklanjuti hal ini, Kementerian Kesehatan juga merencanakan adanya screening jiwa melalui program cek kesehatan gratis bagi anak-anak.
“Akhir-akhir ini kita banyak melihat anak-anak yang terlambat bicara, sehingga kita butuh banyak terapis wicara,” ucap Budi.
Setelah dilakukan screening penyebab anak-anak terlambat bicara, hal ini disebabkan oleh aktivitas anak-anak masa kini yang lebih sering diberikan gadget dibandingkan diajak bersosialisasi dengan teman-temannya sejak dini.
Hal ini juga didukung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Arifah Choiri.
“Saya pernah sampaikan juga kepada pak Mendikdasmen, bagaimana kalau tugas tugas sekolah saat ini tidak lagi menggunakan gadget, tapi secara manual saja,” ungkap Arifah.
Hal ini bertujuan untuk meminimalisir penggunaan gadget dikalangan anak usia dini.
(Taufik Fajar)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik