Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

AI Bantu Guru dan Mahasiswa, dari Kerjakan Esai hingga Rencana Pembelajaran

Timothy Gishelardo , Jurnalis-Senin, 05 Februari 2024 |15:32 WIB
AI Bantu Guru dan Mahasiswa, dari Kerjakan Esai hingga Rencana Pembelajaran
AI Bantu Guru dan Mahasiswa (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Lebih dari separuh mahasiswa sarjana Inggris mengaku menggunakan program kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengerjaan esai mereka.

Tak hanya itu, para guru juga memanfaatkan teknologi AI untuk membantu dalam perencanaan pembelajaran, dengan harapan dapat mengurangi beban kerja mereka.

Penemuan ini berdasarkan sebuah survei terhadap lebih dari 1.000 mahasiswa sarjana di Inggris, yang dilakukan oleh Higher Education Policy Institute (Hepi).

Lebih dari 50% Mahasiswa Menggunakan AI

Dalam survei tersebut, menemukan bahwa 53% dari mereka menggunakan AI untuk membuat materi yang mereka gunakan dalam pengerjaan tugas, termasuk membuat esai.

Satu dari empat orang menggunakan aplikasi seperti Google Bard atau ChatGPT untuk memberikan saran terkait topik, sedangkan satu dari delapan orang menggunakannya untuk membuat konten. Hanya 5% yang mengaku menyalin dan menempelkan teks yang dihasilkan oleh AI tanpa diedit ke dalam tugas mereka.

Andres Guadamuz, seorang pembaca hukum kekayaan intelektual di University of Sussex, mengatakan bahwa tidak mengherankan jika semakin banyak mahasiswa yang menggunakan AI dalam proses pendidikan mereka. Bahkan, dirinya menyarankan agar institusi perlu membahas secara kritis terkait cara terbaik untuk mengintegrasikan AI sebagai alat pembelajaran yang efektif.

“Saya telah menerapkan kebijakan untuk melakukan percakapan yang matang dengan siswa tentang AI generatif. Mereka berbagi dengan saya tentang bagaimana mereka memanfaatkannya,” kata Guadamuz seperti dilansir The Guardian, Senin (5/2/2024).

 BACA JUGA:

Akan tetapi, Guadamuz khawatir terkait karena adanya keberadaan AI yang dapat membuat para mahasiswa menjadi terlena akan kemajuan teknologi yang dapat memberikan kemudahan atas segalanya.

“Kekhawatiran utama saya adalah banyaknya siswa yang tidak menyadari potensi 'halusinasi' dan ketidakakuratan dalam AI. Saya yakin ini adalah tanggung jawab kita sebagai pendidik untuk mengatasi masalah ini secara langsung,” ujarnya.

Menurut survei Hepi, satu dari tiga siswa yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) tidak menyadari seberapa sering AI "berhalusinasi". Hal ini mencakup pembuatan statistik, kutipan akademis, atau judul buku untuk mengisi apa yang dianggap sebagai kekosongan informasi.

Guadamuz sendiri mengatakan bahwa dia telah menyerahkan beberapa esai tahun lalu yang jelas-jelas menggunakan keluaran ChatGPT yang belum diedit. Dirinya dapat mengidentifikasi esai tersebut oleh karena gaya penulisannya yang terlihat membosankan dan kaku.

Guadamuz menyarankan perlu adanya adaptasi yang dilakukan oleh para pengajar sehingga dapat meminimalisir hal tersebut.

“Dunia sedang berkembang, dan sebagai pendidik kita perlu beradaptasi dengan menetapkan pedoman dan kebijakan yang jelas, serta merancang penilaian yang lebih menantang. Namun, hal ini sulit dilakukan di tengah keterbatasan sumber daya di mana para akademisi sudah terbebani dan dibayar rendah,” kata Guadamuz.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement