KENDARI - Namanya Anggi Anggraini. Usianya masih 23 tahun, kelahiran Kendari, 8 Juli 2021. Guru yang masih muda dan cantik ini terlihat antusias mengikuti konferensi dalam Teaching Learning Center (TLC) bersama para Master Teacher atau guru yang terpilih untuk peningkatan kompetensi.
Bagi Anggi Anggraini, dia senang mendapatkan banyak ilmu dalam TLC yang digagas Putera Sampoerna Foundation. Pasalnya, mengajar di era teknologi tak semudah yang dibayangkan.
“Saya di sini sebagai peserta diundang oleh TLC untuk mendapatkan pembekalan cara mengajar yang inovatif di era digital,” katanya kepada Okezone di SMAN 1 Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (12/12/2023).
BACA JUGA:
Menurutnya, saat ini mengajar para Gen Z bukan sesuatu yang mudah. Pasalnya, Gen Z jauh lebih kritis dan selalu berpatokan dengan internet atau Google.
“Mengajar Gen Z itu tak semudah yang dibayangkan. Saya sebagai guru muda, ternyata mengajar manusia tak semudah itu. Sulit sekali mengajar Gen Z yang kritis dan serba tahu. Apa-apa mereka cari di Google,” ucapnya.
Guru muda yang masih berstatus honorer itu bercerita bagaimana dia mengajar di kelas agar lebih inovatif dan kreatif. Pasalnya, anak zaman sekarang, kata dia, lebih sulit diatur.
“Anak zaman sekarang beda sekali dengan kita dulu. Dididik dengan keras malah mereka sulit, dididik terlalu lembut juga sulit. Mereka seolah mengajar kita sebagai teman tapi kadang jadi semakin terkikis rasa hormatnya kepada yang lebih tua. Maka kita harus dibekali cara mengajar yang anti kekerasan,” ucapnya.

Guru Bebas Bullying dan Harus Beradaptasi
Mereka juga diberikan pembekalan modul bagaimana cara mengajarkan P5 hingga antibullying di sekolah. Guru juga tidak boleh menerapkan pola ajar yang mengandung unsur perundungan.
“Iya benar kami diberikan modul dan harus membekali siswa dengan soft skill, nilai-nilai toleransi, gotong royong, sesuai Kurikulum Merdeka,” katanya.