Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kelelawar Vampir Terusik akibat Pemanasan Global, Berpotensi Bawa Virus Penyakit

Marieska Harya Virdhani , Jurnalis-Senin, 04 Desember 2023 |16:05 WIB
Kelelawar Vampir Terusik akibat Pemanasan Global, Berpotensi Bawa Virus Penyakit
Kelelawar vampir berpotensi membawa virus penyakit (Foto: Science Alert/Virginia Tech)
A
A
A

JAKARTA - Peneliti mengingatkan satwa kelelawar vampir mulai bermigrasi. Studi terbaru mendukung kekhawatiran mengenai perluasan lebih jauh ke utara akibat pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanasan iklim di wilayah selatan AS akan segera menarik kelelawar vampir untuk pindah ke sana. Beberapa di antaranya berpotensi membawa penyakit seperti rabies yang dapat menyebar ke satwa liar, hewan ternak, atau, dalam kasus yang jarang terjadi, manusia.

“Apa yang kami temukan adalah distribusi kelelawar vampir telah berpindah ke arah utara seiring berjalannya waktu karena perubahan iklim di masa lalu, yang berhubungan dengan peningkatan kasus rabies di banyak negara Amerika Latin,” kata Ahli biologi dan penulis utama Paige Van de Vuurst dari Virginia Polytechnic Institute dan State University dilansir dari Science Alert, Senin (4/12/2023).

Ada tiga spesies kelelawar vampir yang hidup di alam liar saat ini, semuanya hanya menghuni Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan, dan beberapa pulau Karibia. Bukti fosil menunjukkan bahwa kelelawar vampir mempunyai distribusi yang lebih luas pada zaman prasejarah, termasuk spesies yang masih ada serta beberapa kelelawar vampir "raksasa" yang kini sudah punah.

Studi baru ini berfokus pada kelelawar vampir biasa (Desmodus rotundus), yang tersebar dari Meksiko utara hingga seluruh Amerika Tengah dan sebagian besar Amerika Selatan. Ia tumbuh subur di berbagai habitat dan ketinggian yang berbeda, dari permukaan laut hingga 3.600 meter di Andes. Van de Vuurst dan rekan-rekannya melaporkan bahwa akibat perubahan iklim, sebagian wilayah AS juga akan mulai menawarkan rumah yang layak bagi kelelawar vampir pada pertengahan abad ini.

 BACA JUGA:

Penelitian mereka menunjukkan bahwa kelelawar secara historis telah menyebar ke wilayah baru untuk mencari habitat yang lebih stabil dan beriklim sedang, sebagai respons terhadap suhu musiman yang lebih ekstrem di wilayah jelajah mereka saat ini. Meskipun kedatangan kelelawar vampir saja tidak perlu dikhawatirkan, namun potensi mereka untuk menularkan penyakit – yaitu rabies – mungkin saja menimbulkan kekhawatiran.

Hal ini terutama terjadi pada sapi dan hewan ternak lainnya, yang sudah berisiko tertular rabies dari kelelawar vampir di wilayah jelajahnya saat ini. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kelelawar secara tidak langsung membunuh ratusan sapi per tahun di beberapa negara dengan menginfeksi mereka dengan virus mematikan tersebut. Meskipun kelelawar vampir umumnya tidak mencari darah dari manusia, risikonya bukan nol, kata para ahli, terutama mengingat potensi rabies untuk mengubah perilaku khas hewan. Kekhawatirannya lebih banyak tertuju pada industri peternakan di AS, karena kelelawar vampir yang datang lebih mungkin menggigit hewan seperti sapi dan kuda dibandingkan manusia.

Studi baru ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas oleh para peneliti untuk mengidentifikasi dengan tepat di mana kelelawar vampir hidup saat ini, dan untuk melacak pergerakan mereka dalam rentang tersebut dan seterusnya. Dengan menggunakan catatan wilayah jelajah kelelawar dari tahun 1901 hingga 2019, studi baru ini berupaya mengklarifikasi bagaimana berbagai faktor geografis dan lingkungan memengaruhi perubahan wilayah jelajah kelelawar vampir dan penyebaran rabies.

 BACA JUGA:

Penelitian yang sedang berjalan bertujuan untuk lebih fokus pada keanekaragaman kelelawar di Kolombia, yang merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman kelelawar tertinggi di dunia, dan dilaporkan berada di urutan kedua setelah Indonesia. “Kolombia adalah negara yang sangat beragam, menjadikannya laboratorium alami yang sempurna,” kata ahli ekologi penyakit Luis Escobar, asisten profesor di Departemen Konservasi Ikan dan Satwa Liar di Sekolah Tinggi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Virginia Tech.

(Marieska Harya Virdhani)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement