Dari hasil penelitian meta-analisis yang dilakukan tim FKUI menunjukkan bahwa ternyata intervensi zero-fluoroscopy sama baiknya dengan fluoroscopy, dibuktikan dengan tingkat kesuksesannya yang tinggi serta komplikasi yang rendah. Mewakili tim, Defin mengungkapkan rasa haru dan bangga dapat mengharumkan nama almamater dan bangsa di ajang internasional bergengsi tersebut.
Dosen pembimbing dr. Radityo Prakoso menjelaskan mereka sudah memulai teknik zero fluoroscopy sejak tahun 2018 di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Namun teknik ini masih menjadi sebuah kontroversi di dunia internasional terlepas dari angka kesuksesan yang tinggi.
"Karena itu, saya menyarankan agar para mahasiswa melakukan meta-analisis terhadap penutupan ASD dengan teknik zero-fluoroscopy dibandingkan dengan fluoroscopy. Saya sangat bangga ternyata berkat kerja keras tim, paper ini dapat dihasilkan dan menunjukkan bahwa teknik zero-fluoroscopy non-inferior terhadap teknik fluoroscopy, dan ini ternyata mendapat apresiasi dari dr. Zahid Amin, seorang intervensionis dari Amerika. Harapan saya ke depannya, agar mahasiswa-mahasiwa FKUI pecinta ilmu kardiologi dapat semakin berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia, salah satunya dengan cara bergabung dan mengembangkan ilmu melalui Oxygen FKUI," ucapnya.
BACA JUGA:
Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, bangga dengan tim FKUI atas pencapaian prestasi di ajang internasional ini. Menurutnya ini menjadi sumbangan prestasi bagi FKUI yang menandakan mahasiswa dan lulusan FKUI juga dapat bersaing secara global.
"Semoga pencapaian ini dapat memotivasi mahasiswa dan alumni FKUI lainnya untuk terus mengukir prestasi,” ujar Prof. Ari.
(Marieska Harya Virdhani)