Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerita Pekerja yang Takut Digantikan Artificial Intelligence

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis-Selasa, 06 Juni 2023 |06:00 WIB
Cerita Pekerja yang Takut Digantikan <i>Artificial Intelligence</i>
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Banyak pekerja khawatir dengan berkembangannya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang akan menggantikan peran mereka.

Salah satunya, Claire yang telah bekerja di bidang Humas untuk sebuah perusahaan konsultan besar berbasis di London selama enam tahun.

Di sana, perempuan berusia 34 tahun ini menikmati pekerjaannya dan mendapatkan gaji yang cukup memuaskan.

Tetapi dalam enam bulan terakhir, dia mulai merasa khawatir dengan masa depan kariernya. Alasannya: kecerdasan buatan (AI).

“Saya rasa kualitas pekerjaan yang saya hasilkan belum dapat ditandingi oleh mesin,” kata Claire, yang nama belakangnya dirahasiakan untuk menjaga identitas dan pekerjaannya.

“Tetapi pada saat yang sama, saya kagum betapa cepatnya ChatGPT menjadi begitu canggih. Dalam beberapa tahun lagi, saya benar-benar dapat membayangkan dunia di mana sebuah bot melakukan pekerjaan saya sebaik yang saya lakukan sendiri. Saya benci memikirkan apa artinya itu bagi pekerjaan saya," imbunya dilansir BBC Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika berita tentang robot mencuri pekerjaan manusia terus menjadi sorotan dan karena alat AI generatif seperti ChatGPT dengan cepat menjadi lebih mudah diakses – beberapa pekerja melaporkan mereka mulai merasa cemas tentang masa depan dan apakah keterampilan yang mereka miliki akan relevan dengan pasar tenaga kerja di tahun-tahun mendatang.

Pada bulan Maret, Goldman Sachs menerbitkan sebuah laporan yang menunjukkan bahwa AI dapat menggantikan setara dengan 300 juta pekerjaan tetap.

Tahun lalu, survei tenaga kerja global tahunan PwC menunjukkan bahwa hampir sepertiga responden mengatakan mereka khawatir tentang kemungkinan peran mereka akan digantikan oleh teknologi dalam tiga tahun ke depan.

“Saya pikir banyak pekerja di bidang kreatif yang peduli,” kata Alys Marshall, seorang copywriter berusia 29 tahun yang berbasis di Bristol, Inggris.

“Kami semua hanya berharap klien kami akan mengenali nilai [kami], dan lebih memilih otentisitas [manusia] daripada harga dan kemudahan alat AI.”

Para pelatih perkembangan karier dan pakar SDM mengatakan bahwa meskipun beberapa kecemasan mungkin dapat dibenarkan, karyawan perlu fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan.

Alih-alih panik tentang kemungkinan kehilangan pekerjaan karena mesin, mereka harus berinvestasi dalam mempelajari cara bekerja bersama teknologi.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement