Share

Viral Kisah Mahasiswi UNY Berjuang Bayar UKT sampai Meninggal Dunia

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 13 Januari 2023 22:34 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 13 65 2746034 viral-kisah-mahasiswi-uny-berjuang-bayar-ukt-sampai-meninggal-dunia-dxtqdqIma5.jpg Mahasiswi UNY, Nur Riska (Foto: Instagram)

YOGYAKARTA - Media sosial (medsos) dihebohkan dengan kisah mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nur Riska Fitri Aningsih yang berjuang untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) sampai meninggal dunia.

Perjuangan Nus Riska disampaikan oleh pemilik akun Twitter Ganta Semendawai, @rgantas. Dalam utasnya itu, ia menyampaikan betapa getir perjuangan Nur Riska untuk membayar UKT-nya tersebut.

Nur Riska merupakan mahasiswa jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNY dari Purbalingga.

Orangtuanya sehari-hari jualan sayur di gerobak pinggir jalan. Di saat yang sama, ibunya harus menghidupi Nur Riska bersama keempat adiknya yang belum lulus sekolah.

"Tidak sulit untuk menebak bahwa jelas keuangan keluarga Riska tak akan cukup membiayai perkuliahannya," tulis @rgantas seperti dikuutip, Jumat (13/1/2023).

Baca juga: Rektor Pastikan UKT Unnes Tidak Akan Naik, Tetap Sama Sejak Tahun 2017

Nur Riska meninggal dunia pada 9 Maret 2022 silam. Sebelum kabar kematiannya diunggah akun resmi kampusnya, Nur Riska diketahui sudah lama tak kuliah hingga diketahui sedang kritis di rumah sakit akibat penyakit hipertensi parah yang dideritanya.

Baca juga: Terdampak Erupsi Gunung Semeru, Mahasiswa Unej Dapat Bantuan UKT Gratis

Nur Riska telah menghadapi permasalahan UKT sejak awal kuliah. Dia pun sudah berulang kali mengajukan permohonan keringanan biaya dengan mengisi pendapatan orangtua sesuai kondisi ekonomi yang dialami.

Namun, kata Ganta, saat coba mengunggah berkas permohonan melalui handphone pinjaman tetangganya, berkas Nur Riska berulang kali gagal terkirim. Alhasil, nominal UKT mencapai Rp3,14 juta.

"Kala itu Ia hampir mengubur asa untuk berkuliah. Beruntungnya, guru-guru di sekolahnya mau membantu UKT pertamanya. Desir harapan pun hadir. Ia resmi menjadi mahasiswa UNY," cuit @rgantas.

Follow Berita Okezone di Google News

Selama menjadi mahasiswi, Nur Riska dikenal sebagai orang yang ceria. "Sangat ceria malah menurutku. Sayang keceriannya mulai luntur tiap mendekati pembayaran UKT, seperti sekarang ini. Ancaman putus kuliah, seolah meremas-remas hatinya. Menyergap semua mimpi indah yang ia bangun," kata Ganta.

Ganta menceritakan bahwa sebenarnya di awal perkuliahannya, Nur Riska sempat bolak-balik dari Rektorat UNY untuk mengajukan keberatan terhadap nominal UKT-nya. Tapi, menurutnya, seperti dimainin oleh birokrasi dioper ke sana sini.

"Padahal, baru-baru ini saya baru tau, kala itu hanya untuk bolak-balik rektorat, ia selalu jalan kaki dari kosannya di Pogung sampai ke jl. Colombo. Riska memang selalu jalan kaki ke mana saja. Mahfum, ia ga memiliki cukup uang utk memesan driver online," demikian cuitan Ganta.

Ganta melanjutkan, selama hidupnya Nur Riska selalu berhati-hati untuk menggunakan uang. Salah satu temannya pernah memberinya abon. Dia sangat senang.

"Selama di kos dia terlihat hanya makan nasi dengan abon yang diberi temannya tadi. Bahkan odol, sabun, shampo dan mi instan dia dapatkan dari pemberian temannya," ujarnya.

"Ini yang membuat saya begitu kagum dengannya. Ia begitu kuat, sangat kuat, terlalu kuat. Atau yg sebenarnya terjadi, dia dipaksa kuat," imbuh Ganta.

Salah satu hal yang membuat Nur Riska berusaha kuat ialah ambisinya untuk menjadi sarjana agar di satu masa dirinya dapat membantu masa depan adik-adiknya

Nur Riska juga pernah bilang, bila akhirnya dia tidak bisa melanjutkan kuliahnya ia ingin kerja agar dapat menguliahkan adiknya. Dia ingin mewujudkan mimpi adiknya.

"Kata itu terucap saat lagi-lagi masa pembayaran UKT mendekati deadline. Ia nyaris kehilangan asa, karena tak bisa membayar UKT," tutur Ganta.

Ganta mengungkapkan pernah menghubungkan Nur Riska dengan salah satu petinggi kampus. Pihak birokrat kampus meminta beberapa dokumen penting untuk membantu penurunannya secara langsung. Dia juga sudah mengisi link pengajuan penurunan UKT yang disediakan kampus. Ironinya, UKT-nya cuman turun sekira Rp600 ribu.

"Ini masih belum cukup. Ia hampir menyerah. Namun, di detik-detik terakhir bantuan pun datang. Ia menyebut ini sebagai "keajaiban". Teman-teman, DPA, dan Kajur membantu patungan. Saya juga ikut membantu, walau tidak banyak," cuit Genta lagi.

"Sayangnya meski demikian, nominal tersebut masih belum cukup. Orangtua Riska & Riska masih harus mencari sisanya. Maklum, periode itu pandemi sdg mengamuk. Akhirnya ia mencoba meminjam uang. Dan di babak akhir Riska bisa mengisi KRS & perkuliahan semester itu masih aman," demikian isi utas itu.

"Tapi, tentu saja tidak benar-benar aman. Mengingat, ia tidak hanya kuliah untuk semester itu. Tapi, masih ada semester yg akan datang. Singkat kata, "masih belum usai"," lanjut Ganta.

Dan pada akhirnya yang ditakutkan pun terjadi. Semester selanjutnya Nur Riska lagi-lagi tidak bisa membayar UKT.

Ganta menerangkan bahwa saat itu dirinya menerima dua kabar berbeda. Pertama, ada yang mengatakan Nur Riska akhirnya menyerah. Kabar kedua, menyebutkan bahwa Nur Riska mencari kerja untuk membayar UKT semester selanjutnya.

"Saya sendiri lebih percaya yang nomor dua. Orang segigih dia tak mungkin menyerah," ucapnya.

Saat itu, sambung Ganta, banyak yang ingin dirinya tanyakan langsung ke Nur Riska. Namun, pertanyan-pertanyaan iyu sudah tak bisa lagi dijawab oleh rekannya satu kampus itu. "Karena tepat 9 Maret 2021 ia sudah meninggal dunia," ujarnya.

"Lagi, saya kembali disadarkan bahwa kita tidak sedang hidup di Novel Laskar Pelangi. Apa yg salah dari mimpi Riska? Ia hanya ingin menjadi sarjana demi membantu ibunya. Bahkan di hari pemakamannya, ibunya berkisah bahwa Riska tidak pernah meminta uang," cuit @rgantas.

Menurut Ganta, sejak sekolah Riska sudah membantu ibunya. Dulu dirinya jualan kecil-kecilan di sekolah. Dari susu jeli, teh tarik, bakso, sampai sosis. Riska juga seorang pesilat. Bahkan dia mencoba mencari uang dengan ikut tarung bebas di desa-desa.

Semua demi keluarganya. Ia berusaha tangguh. "Namun, nyatanya ia tidak setangguh itu. Selama ini dia mengidap hipertensi yg amat buruk. Ancamanan putus kuliah kian memperburuk keadaannya. Setelah beberapa waktu tidak kuliah, tiba-tiba muncul kabar ia sedang kritis di RS. Pembuluh darah di otaknya pecah," tulis Ganta.

"Ia pun menyerah pada 9 Maret 2022. Meninggalkan keluarganya beserta mimpi-mimpinya. Saya kehilangan satu teman berharga. Negara ini kehilangan satu potensi besar yg kelak membangun bangsa. Dan kita kehilangan satu lagi orang baik di dunia," tuturnya.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini