Barulah pihak Ponpes mengumpulkan pengurus-pengurus lainnya
"Baru mengumpulkan pengurus yang lain baik dari sekolah maupun pengurus yang lain. Jadi memang benar pihak pondok belum sempat mengabarkan ke orang tua korban. Memang keduluan orang tua itu, bukan tidak mau mengabarkan. Karena menjenguk itu," ungkapnya.
Pihaknya juga sempat berupaya mempertemukan kedua belah orang tua baik dari korban dan pelaku.
Bahkan pengurus pondok disebut tiga kali berkunjung ke rumah orang tua korban di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
"Ternyata pak aziz tidak mau ketemu sama pelakunya. Kebetulan saat itu saya lagi umrah dan pengurus sampai 3 kali riwa - riwi ke rumah Pak Aziz (ayah korban) dan foto bersama dengan anaknya," tuturnya.
Pasca kejadian penganiayaan itu, Fathul berkomitmen Ponpes An-Nur 2 bakal meningkatkan pengamanan dan pengawasan di area pondok, terutama saat waktu pulang sekolah dan istirahat.
Apalagi sejak tindakan bullying dan kekerasan di lingkungan lembaga pendidikan meningkat, pihaknya kian sadar akan resiko itu.
"Saya rasa (pengamanan dan pengawasan) sudah maksimal, cuma kebetulan terjadi yang sebelumnya tidak ada tanda-tanda, kemudian terjadi dengan cepat. Namun, karena banyak anjuran untuk meningkatkan, kita juga memberikan kesadaran lagi. Dan sejak ada sorotan baik sekolah negeri, bahwa ada bully kami tekankan kepada santri bahwa sekarang tetap saling menghormati saling kerja sama," paparnya.
Sebelumnya diberitakan, DFA mengalami tindakan penganiayaan oleh KR, yang tak lain adalah rekan sesama santri di lingkungan Ponpes An-Nur 2 Bululawang, Kabupaten Malang.