Share

Konsep Blue and Green Economy Wujudkan Perubahan Ekonomi Berkelanjutan, Butuh Kontribusi Profesor Riset

Natalia Bulan, Okezone · Kamis 08 Desember 2022 18:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 08 65 2723353 konsep-blue-and-green-economy-wujudkan-perubahan-ekonomi-berkelanjutan-butuh-kontribusi-profesor-riset-SuzWMJbWG7.jpg Konsep Blue and Green Economy wujudkan ekonomi berkelanjutan/Istimewa

JAKARTA - Pada dekade terakhir ini, konsep green and blue economy menjadi strategi prioritas bagi banyak negara.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menyatakan, konsep tersebut akan menjadi pendorong perubahan ekonomi berkelanjutan.

“Dengan begitu, negara-negara akan siap menghadapi tantangan besar yang dihadapi seperti kekurangan sumber daya, perubahan iklim, ancaman keamanan lingkungan, krisis energi dan lainnya,” ujarnya.

“Hal itu menjadikan peluang bagi para pemangku kepentingan di semua tingkatan dan menciptakan kemitraan dan kerja sama dalam menciptakan ide dan peluang yang inovatif,” tambahnya.

Untuk mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan, Indonesia membutuhkan ketekunan sumber daya manusia yang berfokus di kepakaran tertentu, di antaranya pada bidang ekonomi hijau dan biru.

Kepada Profesor Riset yang akan dikukuhkan, Handoko menekankan, wajib menunjukan kontribusi secara terus menerus, baik pada pengembangan iptek di bidang kepakarannya maupun upaya mencari solusi permasalahan bangsa.

Follow Berita Okezone di Google News

Secara urutan nasional, Atit Kanti dikukuhkan sebagai Profesor Riset Indonesia di urutan 650 dan Puspita Lisdiyanti di urutan 651.

Keduanya adalah periset di bidang mikrobiologi. Selanjutnya Edy Giri Rachman Putra (urutan 652) adalah pakar di bidang kimia fisika makrolekul, dan Susilo Widodo (urutan 653) sebagai pakar di bidang fisika radiasi.

Di lingkungan BRIN, secara urutan sejak BRIN berdiri pada 2021, keempatnya menduduki urutan ke 27, 28, 29, dan 30.

Dalam orasi pengukuhannya, Puspita Lisdiyanti akan memaparkan biodiversitas dan pengelolaan mikroorganisme Indonesia.

Ia juga akan memaparkan beberapa contoh potensi mikroorganisme untuk dikembangkan lebih lanjut dalam bidang kesehatan, pangan fungsional, dan lingkungan.

Tidak hanya itu, perkembangan riset biodiversitas bakteri dan arkea; serta strategi untuk kemajuan riset dan inovasi di bidang kesehatan, pangan, dan lingkungan menuju Indonesia Emas 2045 juga akan dibahasnya.

Edy Giri Rachman Putra akan mengulas ‘Aplikasi Hamburan Neutron untuk Karakterisasi Nanostruktur Biomakromolekul’.

Secara umum, pemanfaatan nuklir di bidang biologi, bioteknologi, dan nano-bioteknologi di Indonesia masih sebagai senyawa perunut atau penanda (tracer/labelling), termasuk untuk mutasi gen, diagnostik, dan terapeutik, padahal aplikasi dan pemanfaatan nuklir lainnya lebih dari itu.

Salah satu contohnya ialah pemanfaatan terbatas radiasi gamma untuk pengembangan vaksin.

Dengan dosis yang tepat, Ia akan menjelaskan bahwa radiasi gamma dapat menghancurkan atau menonaktifkan material genetik virus tanpa merusak protein antigen permukaan.

Proses tersebut untuk menghasilkan nonaktif virus atau virus yang dilemahkan

(inactivated/attenuated vaccine).

Orasi Atit Kanti, berisi telaah taksonomi keragaman jenis khamir Indonesia untuk mendukung kegiatan bioprospeksi berbasis mikroorganisme.

Telaah tersebut meliputi 4 bagian, yaitu (1) pengungkapan keragaman dan keunikan fisiologi jenis khamir Indonesia termasuk pengungkapan taksa baru, (2) perlunya depositori mikroorganisme untuk menjamin viabilitas yang tinggi, (3) pentingnya distribusi khamir untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan biofuel dan bioindustri, dan (4) kerjasama kultur koleksi dalam pengelolaan mikroorganisme dan peluang pemanfaatannya untuk keuntungan ekonomi.

Ia juga akan menjabarkan peluang dan tantangan dalam pengelolaan berbasis khamir untuk mendukung pengembangan kegiatan penelitian biofuel dan bioindustri.

Berikutnya, Susilo Widodo dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ‘Sistem Radionuklida untuk Mendukung Traktat Pelarangan Uji Coba Nuklir’, akan menyampaikan bahwa Radionuklida merupakan ciri khas suatu ledakan nuklir.

Traktat CTBT (Comprehensive Nuclear-Test Ban Treaty) melarang uji coba bom nuklir di seluruh sudut bumi dan angkasa. Selain menjadi ancaman perdamaian dunia, setiap uji coba nuklir menyisakan nuklida radioaktif atau radionuklida yang mencemari lingkungan.

Sistem deteksi radiasi atau radionuklida terus berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan tingkat pengetahuan tentang radionuklida, radiasi pengion, dan berbagai aplikasinya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini