Share

Hubungan Parasosial: Hubungan Sepihak dengan Idola Kesayangan

Nina Aninda Sari, Presma · Jum'at 25 November 2022 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 65 2714866 hubungan-parasosial-hubungan-sepihak-dengan-idola-kesayangan-hO0ow8Rd9f.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Fenomena Korean Pop atau yang biasa disebut dengan K-Pop saat ini tengah digemari oleh masyarakat Indonesia.

Saat ini, siapa yang tak mengenal BTS, Blackpink, dan NCT? Mereka adalah contoh dari sekian banyaknya idol K-Pop yang memiliki ribuan, bahkan jutaan penggemar di seluruh dunia.

Seiring berkembangnya zaman, mereka juga menyajikan berbagai konten di media sosial untuk menarik hati penggemar.

Namun, tak sedikit penggemar yang akhirnya mulai berkhayal tentang hubungan mereka dengan idolanya.

 BACA JUGA:6 Kampus dengan Jurusan Psikologi terbaik Indonesia, Ada Terkenal Se-Asia

Hubungan tersebut biasanya disebut dengan hubungan parasosial. Menurut Horton dan Wohl (1956), hubungan parasosial merupakan hubungan tidak nyata antara penonton dengan individu yang tampil dalam media (baik televisi, radio, maupun internet), ketika penonton merasakan hubungan pertemanan atau hubungan intim yang didasari oleh perasaan ikatan afektif penonton terhadap tokoh media ( et al., 2016).

Hubungan parasosial dianggap satu arah karena biasanya hanya penggemar yang merasakan kedekatan dengan selebriti idola mereka sedangkan sang idola sama sekali tidak mengenal mereka (Perbawani & Nuralin, 2021).

Hubungan parasosial ini dianggap mulai muncul saat penggemar merasa bahwa mereka adalah teman dari idola K-Pop tersebut.

Namun, apakah hubungan seperti ini termasuk hubungan yang positif?

Giles (2003:256-260) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa efek yang ditimbulkan dari interaksi pada hubungan parasosial ini, yaitu:

Sense of Companionshop, saat penggemar akan merasakan suatu kepuasan dalam hubungan parasosialnya.

Pseudo Friendship adalah rasa persahabatan semu yang muncul antara penggemar dengan idola K-Pop yang mereka lihat di media, khususnya media sosial.

Personal Identity, ketika penggemar menjadikan tingkah laku yang mereka tonton sebagai bentuk pemahaman bagi dirinya sendiri.

Pedoman Tingkah Laku,dari melihat media tersebut, penggemar akan menjadikan tingkah laku sosial, budaya menjadi suatu panduan dalam kehidupannya sehari-hari.

Pemirsa Patologis, ketika dapat menimbulkan gejala patologis karena apapun yang dilakukan idola tersebut akan ditiru, bahkan yang buruk sekalipun.

Dari perspektif penggemar, intensitas hubungan parasosial ini menyerupai intensitas hubungan sosial romantis yang berkaitan dengan pola keterikatan orang dewasa.

Saat hubungan parasosial ini terbentuk, mereka mencoba mengembangkan cara yang mirip dengan hubungan sosial yang biasanya mereka jalani.

Efek dari hubungan ini tidak terbatas hanya pada perilaku penggemar, tetapi juga termasuk efek emosional yang memengaruhi kehidupan penggemar itu sendiri (Sagita & Kadewandana, 2017).

Apabila dilihat dari efek atau dampak yang ditimbulkan, tidak sepenuhnya hubungan parasosial ini membawa dampak yang negatif bagi kehidupan penggemar.

Penggemar bisa saja mencontoh perilaku baik yang dilakukan oleh seorang idola K-Pop. Oleh karena itu, penggemar perlu untuk memilah bagian mana yang baik dan buruk dari hubungan parasosial ini, yang nantinya akan berdampak pada kehidupannya sehari-hari.

Nina Aninda Sari

 

Aktivis Persma Erythro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini