Share

Memahami Fenomena Overthinking Berdasarkan Psikologi dan Bagaimana Mengatasinya

Zamilatul Anisa, Presma · Jum'at 25 November 2022 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 65 2714784 memahami-fenomena-overthinking-berdasarkan-psikologi-dan-bagaimana-mengatasinya-JqWsQuGc7a.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Overthinking bukan kata yang asing di telinga, apalagi di kalangan anak muda. Banyak dari kita yang seringkali terjebak pada kondisi overthinking ini.

Meskipun banyak dialami oleh para muda-mudi, tak jarang, overthinking juga dialami oleh orang dewasa bahkan mereka yang sudah berumur lanjut.

Tapi sebenarnya, apa sih itu overthinking? Dari susunan katanya sudah terlihat jelas jika overthinking tersusun dari yaitu dua kata, over (berlebihan) dan thinking (berpikir), maka singkatnya sih overthinking ini adalah kondisi ketika seseorang terlalu banyak memikirkan sesuatu atau bahasa kerennya “thinking too much”.

Menurut Dictionary of Psychology dari American Psychological Association, overthinking atau bahasa klinisnya disebut rumination merupakan pemikiran obsesif (berulang) yang melibatkan pemikiran atau tema yang berlebihan dan berulang yang mengganggu bentuk aktivitas mental lainnya.

Ini merupakan bagian dari gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan kecemasan umum.

Rumination mengakibatkan seseorang menjadi lebih fokus kepada kejadian serta perasaan negatif yang telah dialaminya.

Ruminasi ini mirip dengan kekhawatiran ketika keduanya sama-sama berkaitan dengan kecemasan berlebih akan masa lalu maupun masa depan.

Tetapi bedanya adalah overthinking lebih fokus pada perasaan negatif tentang pengalaman yang tidak menyenangkan, sedangkan rasa kekhawatiran lebih fokus pada antisipasi hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.

Walau begitu, keduanya sama-sama menimbulkan perasaan tidak menyenangkan jika dialami terus-menerus.

Overthinking dapat disebabkan oleh kejadian traumatik di masa lalu, pengalaman stres, maupun tekanan dan permasalahan kehidupan.

Seseorang dengan kepribadian perfeksionis dan melankolis biasanya cenderung menjadi seorang overthinker.

Biasanya, mereka yang sedang mengalami overthinking akan cenderung tenggelam pada pemikiran terus-menerus mengenai suatu hal dan merasa sulit untuk terlepas dari pemikiran itu, tak jarang pemikiran berlebih itu menimbulkan asumsi-asumsi, yang biasanya bersifat negatif, akibatnya akan timbul kekhawatiran-kekhawatiran semu yang tak ada ujungnya.

Mereka akan terus memikirkan mengenai suatu hal, bagaimana dan mengapa itu bisa terjadi, dan mengkhawatirkan tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Melelahkan bukan?

Berputar-putar pada perasaan yang sama dan terus terjebak di dalamnya.

Jika tidak diatasi, kondisi ini akan berpengaruh pada kesahatan mental kita dan bahkan fisik.

Dampaknya bermacam-macam, seseorang mungkin akan mengalami gangguan tidur, kelelahan yang tidak jelas penyebabnya, penurunan motivasi, kesedihan, kecemasan, dan bahkan ketakukan akan masa depan.

Oleh karena itu, bagaimana supaya kita tidak terjebak dalam perasaan overthinking?

Ini beberapa tipsnya.

1. Menyadari bahwa perasaan overthinking adalah perasaan yang buruk dan tidak baik jika diteruskan

Kita harus memahami apa penyebab overthinking yang kita alami, apa dampak dan apa untungnya jika kita terus menerus tenggelam pada perasaan itu. Sadarilah jika memikirkan hal secara berlebihan tidak akan mengubah kenyataan, yang ada itu hanya memperumit keadaan.

2. Kendalikan diri sendiri

Dalam kehidupan, hal-hal terkadang terjadi di luar kendali kita. Sadari dengan sepenuh hati jika tak semuanya bisa kita kendalikan.

Maka, satu-satunya yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri. Kendalikan perasaan dan pikiran kita. Arahkan dengan benar dan jangan terlalu tenggelam pada perasaan.

3. Kelola stres dan lakukan mindfullness

Stres berlebih karena memikirkan sesuatu hanya akan mengganggu hari-hari kita. Cobalah untuk menerapkan “mindfullness”, hadirkan diri kita pada kondisi saat ini, hadapi hari ini dan jangan memikirkan sesuatu yang telah lalu atau terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum pasti.

Sibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat

Daripada tenggelam pada pemikiran yang melelahkan, coba alihkan dengan menyibukkan diri melakukan hal-hal yang kita sukai. Lakukan hobi, olahraga, atau mencoba hal-hal baru yang menarik.

4. Lakukan self-talk

Kata-kata afiramsi dan positif seringkali dapat meringankan beban pikiran kita. Katakan pada diri kita, jangan terlalu dipikirkan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja.

Yakinkan diri bahwa masa lalu tidak akan pernah bisa berubah dengan kita pikirkan terus-menerus, pun masa depan tidaklah selalu seperti yang kita asumsikan saat ini.

Daripada terus dipikirkan, akan lebih baik jika fokus pada kehidupan saat ini, terus menata diri, dan memulai lembaran baru kehidupan yang lebih pasti.

Hal yang lebih utama adalah kita harus menyadari bahwa apapun dalam hidup ini pasti terjadi karena suatu alasan.

Pahami itu dan selalu hadirkan rasa syukur dan penerimaan terhadap segala sesuatu. Kelola emosi, kendalikan perasaan, dan jangan biarkan diri kita terlalu larut dalam pemikiran yang tidak pasti.

Zamilatul Anisa

Aktivis Persma Erythro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini