JAKARTA - PLTA atau Pembangkit Listrik Tenaga Air merupakan pembangkit yang memanfaatkan aliran air dengan mengandalkan energi potensial dan kinetik sehingga menghasilkan energi listrik.
Listrik adalah sumber daya yang sangat kita butuhkan bagi kehidupan. Seluruh kegiatan pendidikan, pekerjaan, hiburan semua sudah menggunakan listrik.
Sumber daya alam seperti air ternyata dapat kita jadikan menjadi energi listrik.
Hal tersebut pertama kali ditemukan oleh William George Armstrong pada tahun 1878.
Lalu, bagaimana PLTA masih digunakan hingga sekarang? Berikut sejarah penemu PLTA:
Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Air
Tenaga air sudah digunakan sejak zaman kuno, namun belum dimanfaatkan sebagai energi listrik.
Pada masa itu energi air digunakan untuk berbagai macam kegiatan, salah satunya menggiling gandum.
Penggunaan tenaga air dimulai pada pertengahan tahun 1770-an oleh Bernard Forest de Belido.
Tokoh ini merupakan insinyur asal Perancis, dia juga menerbitkan buku berjudul Architecture Hydraulique.
Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai mesin hidrolik sumbu-vertikal dan horizontal. Di akhir abad ke-19 mesin hidrolik dapat dipasangi generator listrik.
Balik ke beberapa puluh tahun sebelumnya. Pada 1870, William George Armstrong adalah tokoh pertama yang mengembangkan PLTA di Cragside, Northumberland, Inggris.
Pada masa itu, PLTA digunakan untuk menyalakan sebuah lampu busur di galeri seninya.
Hingga tahun 1881, Amerika Serikat mulai ikut mengembangkannya. Bernama Pembangkit Listrik Schoelkopf No. 1 dikembangkan di dekat Air Terjun Niagara.
Tahun berikutnya, 1882. Muncul pembangkit listrik ciptaan Edison, Pembangkit Vulcan Street yang mulai beroperasi di Appleton, Wisconsin, dengan kapasitas sebesar 12,5 kilowatt.
PLTA terus berkembang hingga abad ke-20. Tentu tenaga air masih terus digunakan karena dinilai lebih ramah lingkungan dibanding batu bara atau energi fosil lainnya.
Bagi sebagian negara yang memiliki sumber air berlimpah dan ketersediaan alat yang memadai, tenaga air menjadi sumber listrik utama.
Negara tersebut adalah Norwegia, Republik Demokratik Kongo, Paraguay dan Brazil yang menggunakan 85% PLTA dari total kebutuhan listrik negara tersebut.
(Natalia Bulan)