Ketika melihat sistem bilangan Arab yang lebih sederhana dan efisien dibandingkan bilangan Romawi, Fibonacci kemudian berkelana ke penjuru daerah Mediterania untuk belajar kepada matematikawan asal Arab yang terkenal pada masanya, dan baru pulang kembali sekitar tahun 1200-an.
Ketika di usia 27, ia menuliskan apa yang telah dipelajari dalam buku Liber Abaci, atau buku perhitungan.
Buku ini berisikan kepraktisan sistem bilangan Arab dengan cara menerapkannya ke dalam pembukuan dagang, konversi berbagai ukuran dan berat, perhitungan bunga, pertukaran uang dan berbagai aplikasi lainnya.
Kemudian, buku ini disambut dengan baik oleh kaum terpelajar Eropa dan mampu menghasilkan dampak yang penting kepada pemikiran Eropa, walaupun penggunaannya baru menyebar luas setelah ditemukannya percetakan sekitar tiga abad berikutnya.
Di dalam Liber Abaci tersebut, Leonardo menjelaskan dengan perumpamaan kelinci. Umpamanya seekor kelinci jantan dan seekor kelinci betina.
Setelah satu bulan, mereka dewasa dan menghasilkan anak dengan kelinci jantan dan betina yang lain.
Setelah sebulan kemudian, kelinci-kelinci tersebut berkembang biak. Setelah satu tahun berapa banyak kelinci yang akan dimilikinya?
Kemudian, rumus yang digunakan mampu menjawab pertanyaan tersebut, sehingga itulah kenapa disebut dengan deret Fibonacci.