Share

Perang Rusia-Ukraina Disebut Rektor Unpad Menjadi Penyebab Pemulihan Ekonomi Makin Sulit

Arif Budianto, Koran Sindo · Kamis 20 Oktober 2022 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 20 65 2690901 perang-rusia-ukraina-disebut-rektor-unpad-menjadi-penyebab-pemulihan-ekonomi-makin-sulit-xTXrci6EVv.jpg Rektor Unpad Profesor Rina Indiastuti/Dok. Unpad

BANDUNG - Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Rina Indiastuti menyebutkan bahwa perang antara Rusia-Ukraina menambah kesulitan pemulihan ekonomi di berbagai negara di tingkat global.

Indonesia tentu terkena imbas dari konflik tersebut.

Menurutnya, Indonesia sebagai sebuah negara yang terdampak konflik tersebut, harus dihadapkan pada tantangan pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 7% untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Konflik ini menambah kesulitan kita untuk mensyukuri bahwa exit dari pandemi akan muncul semangat baru, tetapi ternyata belum bisa,” kata Rina, dalam siaran persnya.

Rina menegaskan, hal terbaik dalam mengantisipasi berbagai dampak global tersebut adalah mengakselerasi penyelesaian konflik Rusia-Ukraina.

Upaya ini diperlukan agar dunia tidak memasuki krisis baru setelah pandemi.

“Kami tidak ingin masuk ke new crisis. Krisis pandemi sudah cukup, jangan lagi ada krisis baru,” kata Rektor.

Follow Berita Okezone di Google News

Lebih lanjut Rektor menjelaskan, dampak konflik Rusia-Ukraina terlihat dari berbagai bidang.

Mulai dari kenaikan harga minyak dunia, krisis pangan, efek ke perdagangan internasional, hingga meningkatnya angka kemiskinan global.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut menyoroti dampak kemiskinan di tingkat global.

Pasca pandemi dan gangguan stabilitas politik akibat konflik menyebabkan angka kemiskinan penduduk global meningkat.

Hampir semua negara telah meluncurkan intervensi sesuai kondisi sosial, politik, dan ekonominya. Indonesia sendiri menyiapkan berbagai intervensi dalam menghadapi kondisi ini.

Opsi pertama adalah pembukaan keran investasi untuk menciptakan lapangan kerja.

Menurut Rektor, untuk meningkatkan investasi, Indonesia harus memperoleh kepercayaan global.

Namun, hal ini perlu dibarengi dengan kesiapan di tingkat mikro.

“Kita juga ingin memastikan di tingkat mikro, kalau investasi masuk, Indonesia aman, gak? Tenaga kerja jadi produktif, nggak? Bayangkan kalau mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pangan,” kata dia.

Sebagai tindak lanjut dari efek domino tersebut, perubahan kebijakan fiskal berupa peralihan subsidi energi yang dialihkan menjadi bantuan langsung untuk rakyat miskin diharapkan dapat merangsang daya beli masyarakat.

Kendati demikian, kebijakan ini perlu ditinjau seberapa lama Indonesia bertahan dalam situasi ini. Ini disebabkan, konflik Rusia-Ukraina juga turut menyumbang kenaikan inflasi dan menyisakan fiskal yang sempit.

“Yang perlu diperhatikan adalah kapasitas fiskal, pengendalian inflasi, dan opsi penambahan utang. Ini yang perlu menjadi perhatian. Kalau berlama-lama takutnya menjadi ‘lelah’,” paparnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini