Share

Program Pengabdian Kepada Masyarakat LPPM UNS Kembangkan Program Desa Wisata

Tim Okezone, Okezone · Minggu 16 Oktober 2022 17:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 16 65 2688150 program-pengabdian-kepada-masyarakat-lppm-uns-kembangkan-program-desa-wisata-sO8IchYFp6.jpg UNS kembanbkan desa wisata (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan Program Pengembangan Desa Wisata Batik Girilayu.

Hal itu dilakukan melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Kompetitif Nasional dengan judul Pengembangan Desa Wisata Batik di Desa Girilayu Berbasis Local Wisdom Menuju Global Market mengembangkan Program Pengembangan Desa Wisata Batik Girilayu. Program tersebut telah dimulai sejak bulan Mei sampai Oktober 2022.

LPPM UNS melalui Pusat Studi Pendamping Koperasi dan UMKM (PSP-KUMKM) menyelenggarakan kegiatan dengan misi untuk menjadi pendamping bagi Pemerintah Desa Girilayu, BumDes, Pokdarwis, dan para perajin batik dalam kelompok Batik Giriarum.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diketuai oleh Yayan Suherlan, dengan beranggotakan Dr. Erlyna Wida Riptanti, M.P. dan Nidyah Widyamurti, ini juga turut melibatkan tiga mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual, Sekolah Vokasi (SV) UNS.

“Kegiatan ini penting untuk diselenggarakan sebagai bentuk daya dukung LPPM-UNS kepada seluruh elemen masyarakat Girilayu sebagai bentuk tanggung jawab Akademisi sebagai elemen Pentahelix dalam bidang pariwisata. Di mana sinergitas antar instansi sangat dibutuhkan masyarakat dalam pengembangan bidang pariwisata. Akademisi berperan penting dalam memberikan pandangan dan analisis berdasarkan objektifitas data di lapangan, serta dapat memberikan formula yang tepat guna kemajuan program wisata,” tutur Yayan Suherlan, dalam keterangan tertulis, Minggu (16/10/2022).

Lebih lanjut, dalam kegiatan ini LPPM-UNS juga berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar dan Bank Negara Indonesia (BNI) yang selama ini memberikan dukungan kepada para perajin Batik Giriarum melalui program corporate social responsibility (CSR) nya. Kegiatan ini juga telah dipublikasikan melalui media massa dalam bentuk pemberitaan dan publikasi dalam bentuk video pada media digital.

Sementara Desa Girillayu yang berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dipilih karena memiliki potensi wisata alam yang menarik di lereng gurung Lawu. Masyarakatnya juga dikenal sebagai pembatik yang handal. Batik Girilayu identik dengan batik yang dibuat dalam lingkup Istana Mangkunegaran.

Konon, keterampilan membatik secara turun menurun tersebut merupakan warisan dari nenek moyang yang bertugas sebagai pembatik untuk kalangan istana Mangkunegaran. Keahlian membatik yang dimiliki oleh Tumenggung sejak zaman KGPAA Mangkunegoro I (Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa) diajarkan kepada penduduk sekitar yang mengabdi padanya. Hingga kini masyarakat Girilayu terkenal mampu menghasilkan batik tulis yang berkualitas tinggi.

Follow Berita Okezone di Google News

“Keterampilan masyarakat Girilayu dalam menggambar motif dan membatik sudah dikenal secara nasional. Produk batik tulis Girilayu tergolong menarik secara visual dan rapi dalam teknik pembatikan, sehingga bisa dikatakan kualitas batiknya halus. Para pejabat istana Mangkunegaran pun sering memesan sebagai busana untuk pelaksanaan ritual tradisi seperti pernikahan dan kematian. Bagi masyarakat Jawa, peristiwa pernikahan dan kematian bersifat sakral, sehingga busana yang dikenakan harus kental dengan filosofi Jawa dan berkualitas bagus,” tambah Yayan Suherlan, S.Sn., M.Sn.

Di sisi lain, keunggulan Batik Girilayu, aktivitas para pembatik di Girilayu, dan potensi alam perdesaan yang sejuk dan damai merupakan keunikan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk belajar tentang batik, berbelanja batik, atau sekadar menikmati keindahan alam desa Girilayu. Dengan pencanangan Desa Girilayu sebagai Desa Wisata Batik pada tahun 2020, masyarakat Desa Girilayu sudah seharusnya segera berbenah diri sebagai produk pariwisata yang unggul dengan keunikannya.

Namun selama 2 tahun setelah pencanangan itu, keunikan dan daya tarik Desa Girilayu belum juga dikenal oleh masyarakat luas. Masyarakat mengunjungi Desa Girilayu hanya sebagai peziarah ke Astana Giribangun, Astana Mangadeg dan Astana Girilayu. Citra produk batik Girilayu belum dikenal wisatawan lokal, nasional, maupun mancanegara. Berbagai kegiatan telah dilakukan, akan tetapi strategi pengelolaan media promosi dan publikasinya belum dilakukan secara masif, sehingga belum mampu menarik perhatian wisatawan.

“Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut kami mencoba untuk mengembangkan potensi desa wisata batik Girilayu melalui serangkaian kegiatan antara lain: 1) Pengembangan produk knowledge yang akan menciptakan value bagi produk batik; 2) Merancang brand identity Desa Wisata Batik Girilayu; 3) Merancang brand identity produk batik Giriarum; 4) Pemberdayaan sumber daya manusia pada BumDes dan Pokdarwis, dan 5) Pengembangan taktik pemasaran melalui strategi foto produk dan pemasaran online,” tutup Yayan Suherlan, S.Sn., M.Sn. Humas UNS

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini