Sementara satu anak lainnya sama sekali tidak bisa menggunakan kakinya dalam aktivitas sehari-hari.
Seorang anak berkebutuhan khusus ini masih bisa mengikuti aktivitas seperti biasa di sekolah.
Karena ia masih bisa melakukan banyak aktivitas sendiri. Tetapi seorang anak lagi harus membutuhkan bantuan orangtua bila akan berpindah ruangan.
"Orangtuanya harus sering dihadirkan ke sekolah. Seperti ketika siswa harus ke laboratorium, maka orangtua terpaksa didatangkan untuk menggendong anak itu. Kalau waktunya pulang sekolah, dia dijemput," tuturnya.
Sebenarnya anak tersebut memiliki kursi roda di rumah namun sengaja tidak dibawa ke sekolah karena siswa akan kesulitan sendiri. Sebab sekolah ini belum dilengkapi dengan aksesibilitas kursi roda.
Setelah melakukan komunikasi, Rifki mengungkapkan berdasarkan keterangan sekolah, ini adalah pengalaman pertama mereka menerima siswa (ABK) kategori fisik. Ia menyebut bukan suatu alasan karena sekolah sudah diinstruksikan sebagai sekolah inklusi
"Semestinya sekolah sudah bersiap sedari sekolah buka memulai ajaran baru," kata dia.
Menurut Rifqi, sekolah perlu menyediakan akses ramah ABK, karena mereka punya hak sama untuk dilayani dalam pendidikan, sama seperti anak lainnya yang non difabel.