Share

Kebiasaan Overthinking Ternyata Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental Remaja

Haliza Nurdilla , Presma · Selasa 13 September 2022 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 13 624 2666297 kebiasaan-overthinking-ternyata-bisa-pengaruhi-kesehatan-mental-remaja-29pGadpD2k.jpg Ilustrasi overthinking/Unsplash

JAKARTA - Kapasitas otak manusia sangatlah luar biasa dibandingkan makhluk lainnya. Hal ini memungkinkan kita mampu menguasi kesadaran untuk merenungkan sesuatu.

Merenungkan masa lalu dan masa depan adalah hal yang normal dilakukan oleh banyak orang. Baik itu berbentuk rasa bangga atas pencapaian, rasa penyesalan atas perlakuan, rasa sakit akibat perlakuan seseorang, cemas dan khawatir akan kegagalan mendatang hingga membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.

Menurut Cohen (2013), terkadang fenomena ini menyebabkan kelumpuhan kemampuan analisis manusia yang dikenal dengan 'Overthinking'.

Cleveland Clinic mengungkapkan overthinking bukanlah kondisi kesehatan mental yang diakui dalam dunia medis, tetapi itu bisa menjadi gejala depresi atau kecemasan yang dikaitkan dengan Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum.

Overthinking memiliki efek negatif yang signifikan pada kehidupan sehari-hari seseorang. Bahkan saat akan tidur atau bersenang-senang, gangguan pikiran yang berlebihan mencegah seseorang untuk rileks. Overthinking akan sangat menggangu jika tidak diatasi segera.

Berdasarkan data WHO (2021) menunjukkan bahwa secara global, diperkirakan 1 dari 7 (14%) anak berusia 10-19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental berupa gangguan emosi dan perilaku, delusi hingga percobaan melukai diri sendiri.

Follow Berita Okezone di Google News

Di Indonesia tercatat sebanyak 95,4% pernah mengalami gejala kecemasan, 88% pernah mengalami gejala depresi dan 96,4% menyatakan kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang dialami selama di usia 16-24 tahun.

Permasalahan remaja ini erat kaitannya dengan kebiasaan overthinking yang tidak lagi terkontrol sehingga benar-benar merusak mental dan fisik.

Dikutip dari Morin (2019) bahwa tanda-tanda mengalami overthinking yaitu sering kali memikirkan kejadian memalukan yang telah dialami, kesulitan untuk beristirahat karena pikiran terasa tidak mau berhenti berpikir, menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan maksud tersembunyi dari perkataan orang atau peristiwa yang terjadi, padahal belum tentu ada makna tersembunyi dari hal itu.

Juga memikirkan berulang-ulang semua hal yang berharap untuk dikatakan atau tidak ketika akan berbicara dengan orang lain, selalu mengingat kesalahan-kesalahan di masa lalu, dan akhirnya menyesalinya, terus kepikiran ketika seseorang berbicara atau bertindak dengan cara yang tidak disukai, terlalu menghabiskan banyak waktu untuk mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak dapat dikendalikan dan sulit mengalihkannya.

Jika terindikasi mengalami hal-hal tersebut maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya yaitu coba pahami bagaimana overthinking mempengaruhi suasana hati, lalu kuasai kesadaran diri untuk mengubah pola pikir; ketika sadar telah overthinking, coba pejamkan mata dan tarik napas dalam-dalam, lakukan berulang.

Coba melakukan kegiatan bermanfaat atau hobi untuk mengalihkannya, melakukan meditasi, jika masalah yang dipikirkan tidak berkaitan dengan hidup 5-10 tahun ke depan, maka selalu ingat “Jangan biarkan masalah kecil berubah menjadi rintangan yang besar”.

Bisa juga dengan melakukan journaling, apresiasi setiap pencapaian diri, coba berpikir dengan sudut pandang yang berbeda, setelah banyaknya pertimbangan saat overthingking, coba berani ambil tindakan, karena belum tentu semenakutkan yang dipikirkan.

Coba lebih sayang dengan diri sendiri dan jika perlu, mintalah bantuan orang lain atau seorang ahli.

 

 

Haliza Nurdilla, mahasiswa aktivis Persma Aklamasi Universitas Islam Riau (UIR)

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini