Share

Sebanyak 31,4% Remaja Mengalami Kecanduan Internet, Ini Langkah Kemenko PMK

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 02 September 2022 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 02 624 2659425 sebanyak-31-4-remaja-mengalami-kecanduan-internet-ini-langkah-kemenko-pmk-aUtj7BQOrz.jpg Rapat sosiasliasi Aplikasi Digital Parenting Kemenko PMK/Binti M

JAKARTA - Pandemi Covid-19 membawa dampak kemajuan teknologi. Mengingat pada saat pandemi Covid-19 semua kegiatan dilakukan secara daring. Namun, di satu sisi justru meningkatkan kecanduan internet, khususnya pada remaja.

Hal ini berdasarkan penelitian seorang dokter hasil penelitian Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr. dr. Kristiana Siste dimana sebanyak 31,4% remaja mengalami kecanduan internet.

Bahkan, 7 dari 10 remaja putri mengalami kecanduan media sosial dan 9 dari 10 remaja putra mengalami kecanduan game online.

Berdasarkan hal ini, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) pada Rapat Sosialisasi Aplikasi Digital Parenting mendorong agar aplikasi Digital Parenting dapat mengurangi angka kecanduan internet bagi remaja.

“Saya sangat antusias sekali dengan aplikasi Digital Parenting ini untuk penanaman nilai-nilai Revolusi Mental yakni Etos Kerja, Gotong Royong, dan Integritas. Dan ke depan, saya berharap akan menanamkan juga gerakan-gerakan Revolusi Mental seperti Gerakan Indonesia Bersatu, Indonesia Tertib dan sebagainya,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya, dan Prestasi Olahraga Didik Suhardi dikutip dari laman resmi Kemenko PMK, Jumat (2/9/2022).

“Saya juga berharap agar kelak aplikasi ini bisa dipakai orangtua anak-anak Indonesia dan gratis. Saya harapkan ada Aksi Nyata Revolusi Mental terkait hal ini,” pungkas Didik.

Follow Berita Okezone di Google News

Sementara itu, Asisten Deputi Literasi, Inovasi dan Kreativitas, Molly Prabawaty mengatakan semangat yang sama dan harapan upaya gotong royong antar kedeputian di Kemenko PMK.

“Saya berharap kontribusi dari Deputi 3 dapat mendorong aplikasi ini diperkenalkan pada pemangku kepentingan terkait pengendalian dan penanggulangan kesehatan akibat adiksi karena gadget seperti Kemenkes, WHO, Pemerintah Daerah, organisasi swasta kesehatan mental. Deputi 4 juga dapat mendorong aplikasi ini diperkenalkan pada pemangku kepentingan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak seperti KPPPA, Kemenpora, UNICEF, Pemerintah Daerah, organisasi swasta dan organisasi kemasyarakatan lainnya,” tutur Molly.

Dalam kesempatan itu, hadir wakil dari Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Heru Nugroho dan Direktur utama PT Ide Defghi Tombak.

Menurut Heru Nugroho, aplikasi Digital Parenting ini sudah dipakai di sekolah swasta dan dicoba oleh 520 orang tua siswa.

“Sebenarnya aplikasi semacam ini banyak, di google juga ada dan free. Namun, aplikasi-aplikasi yang berkembang di luar negeri sudah pasti pakai kultur luar. Dan yang dikembangkan oleh kita bersama PT Defghi ini benar-benar memakai kultur Indonesia. Tentu sangat sesuai dengan kondisi kita,” tutur Heru Nugroho.

Aplikasi diunduh di ponsel orang tua dan anak. Orang tua bisa memonitor aplikasi apa saja yang diunduh dan dipakai anak serta bisa mengontrol pemakaiannya.

Bahkan, ditambahkan oleh Tombak, orang tua bisa menutup akses Virtual Privat Network (VPN) yang banyak bertebaran di internet bahkan banyak yang gratis.

“Pemerintah sudah memblokir sejumlah akses menuju portal-portal berbahaya semacam pornografi. Namun, anak sekarang sangat pintar bisa menggunakan VPN yang free maupun berbayar untuk mengakses portal-portal tersebut. Di aplikasi ini kita buang dan block VPN tersebut, karena orang tua bisa memonitor dan mengontrol pemakaian internet anak lewat ponselnya,” urai Tombak seraya menambahkan ada fitur panic button di aplikasi milik anak.

“Jika anak dalam bahaya, anak bisa menekan panic button. Dan langsung ada video terekam sekitar 5 detik. Orang tua langsung mendapatkan pesan, keberadaan anak,” pungkas Tombak.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini