Share

Tips Mengelola Pengeluaran Bagi Mahasiswa dari Dosen FEB Unair

Natalia Bulan, Okezone · Selasa 16 Agustus 2022 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 15 65 2648263 tips-mengelola-pengeluaran-bagi-mahasiswa-dari-dosen-feb-unair-LZNNnV0W0s.jpg Tips mengelola keuangan untuk mahasiswa dari Dosen FEB Unair/Unsplash

SURABAYA - Tahun ajaran baru untuk mahasiswa sudah dimulai dan akan kembali aktif belajar di kampus. Hal ini juga menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa baru yang memutuskan kuliah di kota orang lain.

Sebagai mahasiswa, kerap sekali mengalami kesulitan dalam mengatur pengeluarannya sehari-hari karena masih susah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Dikutip dari laman resmi Unari, Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) Martha Ranggi Primanthi SE., MIDEC., PhD membagikan tips untuk mahasiswa bagaimana mengelola pengeluaran yang baik dan sehat.

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah membedakan mana keinginan dan kebutuhan.

Ia mengungkapkan bahwa hal tersebut sangat mudah dilakukan. Jika kita tidak membeli sesuatu, tapi kehidupan masih berjalan lancar dan aman tanpa hambatan, maka itu adalah keinginan bukan kebutuhan.

“Karena kalau kebutuhan tidak dipenuhi, kehidupan kita jadi jadi buruk atau worst off. Cara membedakannya as simple as that,” ungkapnya.

Mengurangi Social Cost

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unari itu memiliki pengalaman menjalani kuliah S1 3,5 tahun di Unair. Kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 di luar negeri.

“Saya melihat sebetulnya di Indonesia ketika saya sebagai mahasiswa, biaya yang cukup besar memengaruhi biaya hidup adalah social cost,” tuturnya.

Menurutnya, social cost di indonesia tergolong sangat tinggi karena budaya yang terbentuk di lingkungan sekitar.

Social cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi gengsi atau gaya hidup yang terjadi di lingkungan sosial.

“Mahasiswa merupakan anak muda yang gairahnya masih tinggi sehingga memiliki gengsi yang tinggi pula. Kalau tidak memiliki produk terkini, khawatir tidak punya teman dan takut tidak diakui oleh lingkungan,” jelasnya.

 

Jangan Terlalu Peduli Persepsi Orang

Martha bercerita, ketika dirinya kuliah di Australia lingkungan sekitar tidak mempedulikan apa yang ia pakai.

Mereka tidak pernah menilai orang dari casing-nya. Hal ini sebenarnya masih ada pro kontra di masyarakat.

“Orang bule kan terkenalnya sangat cuek, pronya di situ sih kita gak peduli orang punya tas ini tas itu, ya don’t really care,” ungkap alumnus Australian National University itu.

Banyak profesor di kampus Martha yang hanya memakai sepeda ontel yang tidak mahal ke kampus.

Padahal mereka sebenarnya mempunyai mobil mewah di rumahnya.

“Karena ya, budaya sana tidak memperhatikan other people’s perception,” ungkapnya.

Sedangkan di Indonesia, persepsi orang masih menjadi determinan untuk menjalani hidup.

Jadi, sebenarnya yang membuat biaya anak muda dan mahasiswa tidak terkontrol adalah biaya sosial.

“Balik lagi ke konsep keinginan atau kebutuhan. Kalau mereka tidak makan di coffee shop mahal apakah akan worst of,” ungkapnya.

Menurut Martha, tips bagi mahasiswa adalah tidak perlu terlalu peduli dengan persepsi orang.

Yang terpenting adalah menjadi pribadi yang baik.

“Baik diukur dari kata, sikap, bukan dari barang apa yang kita punya,” tuturnya.

Pada akhir, Martha berharap mahasiswa bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk bisa lebih bermanfaat dan menjadi berkat untuk banyak orang di sekitarnya.

Manfaatkan segala kesempatan yang ada, baik itu kesempatan entrepreneur, kesempatan ke luar negeri, dan lain sebagainya.

“Itu harus dimanfaatkan untuk menjadi orang baik dan benar,” tutupnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini