Share

Profil Ibu Fatmawati Soekarno dan Kisahnya Menjahit Bendera Merah Putih

Asthesia Dhea Cantika, MNC Portal · Jum'at 05 Agustus 2022 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 624 2642725 profil-ibu-fatmawati-soekarno-dan-kisahnya-menjahit-bendera-merah-putih-vho52miHQ4.jpeg Ibu Fatmawati Soekarno (Foto: Okezone)

JAKARTA - Profil Ibu Fatmawati Soekarno dan kisahnya menjahit bendera Merah Putih menarik dibahas. Fatmawati merupakan anak tunggal dari Pasutri H Hasan Din dan Siti Khadijah. Di mana perempuan yang mendapatkan bintang kehormatan Maha Putra Adi Pradana, 1995 dipersunting Soekarno pada 1943.

Sebelum dipersunting Soekarno, Fatmawati bertemu Bung Karno ketika diasingkan di Bengkulu, pada tahun 1938 hingga 1942. Saat di Bengkulu, Bung Karno pernah mengajar di sekolah Muhammadiyah. Dari situ Bung Karno kenal dengan Fatmawati.

Profil Ibu Fatmawati Soekarno dan kisahnya menjahit bendera Merah Putih ini setelah menikah dengan Presiden Republik Indonesia yang pertama memiliki lima orang anak itu langsung di boyong ke Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mendampingi Soekarno. Sejak itu perempuan yang sempat menjabat sebagai pelindung/ penasehat Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ini aktif dalam perjuangan kemerdekaan RI.

Tidak hanya itu, istri Proklamator Kemerdekaan RI 1945 ini ikut serta dalam menghadiri sidang Dokutsu Zyunbi Tyoosakai. Fatmawati juga ikut dalam memberikan bantuan berupa beras kepada para istri prajurit.

Setelah satu tahun menikah, Jepang menjanjikan Soekarno kemerdekaan Indonesia. Atas permintaan Soekarno kepada Shimizu, Chaerul Basri selaku kepala barisan propaganda Jepang (Sendenbu), diperintahkan mengambil kain dari gudang di Jalan Pintu Air untuk diantarkan ke Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.

Sosok perempuan yang sempat menjabat pelindung/penasihat persatuan wanita Indonesia (Perwari) ini ikut menderita bersama bayi-nya Guntur Soekarno Putra. Saat itu Fatmawati ikut diculik pemuda untuk dibawa ke Rengasdengklok, pada 16 Agustus 1945.

Kain ini lalu dijahit oleh Fatmawati menjadi bendera, dan dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 yang kini Jalan Proklamasi, Jakarta.

Selain menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada 17 Agustus 1945, Fatmawati pada 1951 dengan gigih ikut memperjuangkan agar dokumen, barang, dan arsip Pemerintah RI yang dirampas oleh Belanda antara 1945-1950 di Jakarta dan Yogyakarta dapat dikembalikan ke Indonesia.

Fatmawati meninggal dunia pada usia 57 tahun di Kuala Lumpur saat perjalanan pulang dari melangsungkan ibadah umrah pada 1980 akibat serangan jantung.

Pada 2000, Fatmawati mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah, dua puluh tahun setelah wafatnya. Pemberian gelar pahlawan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000.

Perjalanan hidup Fatmawati cukup banyak aral melintang yang dihadapi. Selama 1945 hingga 1946, dia sering berpindah tempat. Dia sering bersembunyi dan menyamar. Sebab, saat itu di Jakarta sedang tidak aman lantaran telah diduduki pasukan NICA Belanda.

Perjuangan ini membuat Fatmawati banyak terlibat dalam kemerdekaan. Saat itu Fatmawati juga sempat mengirim perbekalan untuk para pejuang di Front yang sedang gerilya. Mulai dari makanan, pakaian bahkan peluru, (30 Tahun Indonesia merdeka 1985:139).

Demikian profil ibu Fatmawati Soekarno dan kisahnya menjahit bendera Merah Putih.

(RIN)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini