Share

Seberapa Besar Kandungan BPA Diserap Tubuh? Ini Penjelasan Pakar IPB

Andika Shaputra, Okezone · Selasa 02 Agustus 2022 17:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 02 65 2640762 seberapa-besar-kandungan-bpa-diserap-tubuh-ini-penjelasan-pakar-ipb-tV6A5NdMzn.jpg Foto: Antara

JAKARTA - Dosen Biokimia dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Syaefudin, mengatakan bahwa Bisfenol A (BPA) yang tidak sengaja dikonsumsi konsumen dari kemasan pangan akan dikeluarkan lagi dari dalam tubuh.

Menurutnya, BPA yang tidak sengaja masuk ke dalam tubuh akan diubah di dalam hati menjadi senyawa lain sehingga dapat lebih mudah dikeluarkan lewat urin.

 (Baca juga: Saran Kemenko Perekonomian soal Pelabelan BPA pada Galon Isi Ulang)

“Jadi sebenarnya, kalau BPA itu tidak sengaja dikonsumsi oleh kita tubuh kita. Misalkan dari air minum dalam kemasan yang mengandung BPA. Tapi, ketika dikonsumsi, yang paling berperan itu adalah hati. Ada proses glukorodinase di hati, di mana ada enzim yang mengubah BPA itu menjadi senyawa lain yang mudah dikeluarkan tubuh lewat urin,” ujarnya, Selasa (2/8/2022).

Dia melanjutkan, BPA memiliki biological half life atau waktu paruh biologisnya. Artinya, ketika BPA itu misalnya satuannya 10, masuk dalam tubuh, dia selama 5-6 jam akan cuma tersisa 5.

“Nah, yang setengahnya lagi itu dikeluarkan dari tubuh. Artinya, yang berpotensi untuk menjadi toksik dalam tubuh itu sebenarnya sudah berkurang,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia mendukung jika konsentrasi BPA yang berpotensi masuk ke dalam tubuh itu perlu diawasi secara ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Hal itu karena kita juga sebenarnya nggak tahu yang ada di sekeliling kita konsentrasinya berapa. Karena kita nggak tahu kalau nggak dibatasi, bisa saja ada yang nakal yang dengan seenaknya meningkatkan konsentrasinya dalam kemasan,” ucapnya.

Di sisi lain, dia menegaskan jika konsentrasi BPA sebesar temuan BPOM itu tidak bermasalah di dalam tubuh, BPOM tidak perlu membuat regulasi baru terkait pelabelan BPA “berpotensi mengandung” BPA dalam kemasan galon berbahan Polikarbonat itu.

Menurut Syaefudin, uji BPA setelah dikonsumsi itu sangat perlu dilakukan. Dia menyarankan agar selain melakukan uji existing terhadap airnya, BPOM juga mengecek lagi kondisi riilnya berapa orang di seluruh Indonesia yang telah mengkonsumsi air AMDK guna ulang itu, yang paparan BPA di dalam tubuhnya melebihi batas aman yang sudah ditetapkan sebesar 0,6 bpj.

“Setelah itulah baru BPOM bisa membuat kesimpulan. Tapi sebelum itu dilakukan, ya tidak bisa disimpulkan BPA dalam galon guna ulang itu berbahaya,”pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini