Share

Refi Nurani Nurohmah, Anak Petani Berprestasi Lanjut Kuliah di UGM Secara Gratis

Tim Okezone, Okezone · Kamis 21 Juli 2022 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 21 65 2633824 refi-nurani-nurohmah-anak-petani-berprestasi-lanjut-kuliah-di-ugm-secara-gratis-6JIpLZ77Gh.jpeg Refi Nurani Nurohmah dan kedua orangtuanya/Dok. UGM

YOGYAKARTA - Refi Nurani Nurohmah dikenal sebagai sosok yang berprestasi di antara siswa SMKN 1 Wonosari, Gunungkidul.

Ia adalah peraih medali emas Olimpiade Nasional 2022 dan juga sederet gelar juara lainnya yang ia peroleh dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Meski memiliki prestasi yang berentet, Refi sempat menetapkan hati untuk tidak melanjutkan pendidikannya selepas lulus SMK karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

Hingga seorang gurunya mendorong untuk mendaftar kuliah melalui jalur SNMPTN.

Dikutip dari laman resmi UGM, kini ia pun sudah resmi menjadi satu di antara mahasiswa Program Studi D4 Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi, Sekolah Vokasi UGM, dan masuk dalam golongan penerima UKT 0.

“Sebenarnya dari awal nggak ada rencana untuk kuliah, lulus SMK langsung cari kerja. Saya tahunya kalau kuliah itu kan biayanya banyak, terus saya mikir orangtua saya, mereka sudah tua dan pekerjaan tidak menetap,” kata Refi.

Guru sekolahnya mendorong Refi untuk melanjutkan kuliah, setelah ia memperoleh peringkat satu secara paralel pada saat penentuan siswa yang eligible untuk mengikuti SNMPTN.

Perkataan sang guru membekas di pikirannya sehingga akhirnya ia mulai mencari informasi dan memberanikan diri berbicara ke orangtuanya terkait rencana kuliah.

“Kata guru saya, sayang kalau kesempatan itu nggak diambil, lebih baik coba mendaftar saja daripada besok menyesal,” ucapnya.

Ayah Refi, Satiran, sehari-hari bertani di ladang kecil miliknya. Sebagian hasil ladang berupa singkong, kacang tanah, beras, dan jagung mereka konsumsi sendiri untuk makan sehari-hari, dan selebihnya ia jual sebagai pemasukan bagi keluarganya.

Berbagai pekerjaan serabutan pun ia lakoni bersama sang istri, Surminah, untuk mencari tambahan pemasukan.

Terkadang mereka ikut bekerja di ladang milik orang lain, mencabuti rumput dan melakukan pekerjaan lainnya dengan bayaran Rp20 ribu.

“Paling banyak dibayar 20 ribu untuk kerja setengah hari. Kadang dari pagi jam 7 sampai jam 11, atau siang jam 1 sampai jam 5 tergantung yang menyuruh,” ungkap Refi.

Surminah juga sesekali membuat produk anyaman untuk dijual dan menerima pesanan keripik yang dibuat dari hasil panenan ladangnya.

Saat masih duduk di bangku sekolah, Refi membantu menjual keripik tersebut kepada guru-guru di sekolahnya.

Keluarga ini bertahan hidup dengan penghasilan sekitar Rp200 ribu per bulan, itu pun jika mereka mendapat hasil ladang yang cukup banyak.

Beruntung mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar untuk pendidikan anaknya selama ini karena Refi bisa bersekolah dengan beasiswa sejak di bangku SMP.

Meski hidup pas-pasan, di lubuk hati yang terdalam kedua orangtua Refi yang hanya lulusan sekolah dasar memendam harapan agar Refi bisa mengenyam pendidikan terbaik dan nantinya mendapatkan penghidupan yang layak.

“Saya sudah bilang, sampai mana pun akan saya usahakan untuk sekolah. Saya memang tidak bisa memberi bekal uang, jadi harus ada modal kepintaran dari Refi sendiri. Tapi bagaimanapun harus sekolah,” ucap Satiran.

Ia mengungkapkan bahwa Refi sejak kecil sangat tekun dalam menuntut ilmu dan selalu mengutamakan sekolah.

Ketekunan dan kegigihan yang ditunjukkan anaknya inilah yang membuatnya yakin Refi memiliki kemampuan yang cukup untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Refi mengerti betul kondisi keluarganya sehingga ia enggan memberatkan orang tuanya dengan pengeluaran-pengeluaran pribadi.

Sejak beberapa tahun yang lalu ia rutin memberikan pelajaran tambahan bagi anak-anak di desanya. Meski penghasilan yang ia terima tidak seberapa, setidaknya dengan pekerjaan ini ia bisa mendapatkan uang saku.

Untuk mendapat penghasilan tambahan, sejak bulan lalu Refi juga sudah tinggal di Yogyakarta bersama saudara tirinya.

Ia membantu saudaranya berjualan di sebuah angkringan, sembari menunggu panggilan untuk bekerja di sebuah pusat perbelanjaan.

Kedua orangtuanya sempat tidak merestui keinginan Refi untuk bekerja sembari menempuh pendidikan.

Mereka ingin anaknya fokus belajar tanpa harus mengkhawatirkan hal-hal lainnya. Namun, Refi meyakinkan mereka bahwa ia akan berusaha membagi waktu dan tetap mengutamakan kuliah.

Meski berat, Satiran dan Surminah pun melepas anaknya ini untuk kuliah di UGM dengan harapan Refi dapat meraih masa depan yang lebih baik.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini