Share

Kedubes Inggris Kerja Sama dengan Unesa untuk Program Sister City Surabaya - Liverpool

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 Juli 2022 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 01 65 2621851 kedubes-inggris-kerja-sama-dengan-unesa-untuk-program-sister-city-surabaya-liverpool-IYr0mzg3On.jpg Kedubes Inggris kerja sama dengan Unesa untuk program Sister City Surabaya - Liverpool/Dok. Unesa

SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terlibat dalam kerja sama Sister City antara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan Pemerintah (Kota) Liverpool, United Kingdom.

Keterlibatan kampus yang dipimpin oleh Cak Hasan seturut dengan arah kolaborasi yang berfokus pada program edukasi anak-anak inklusi.

Dikutip dari laman Unesa, sebagai penguatan kerja sama itu, jajaran Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia dan pimpinan Unesa mengadakan pertemuan di Ruang Rapat, Lantai 8, Gedung Rektorat Kampus Lidah Wetan, Surabaya pada Selasa 28 Juni 2022.

Wakil Duta Besar Inggris Rob Venn menyampaikan bahwa diskusi dan kerja sama tersebut didasarkan pada komitmen pemerintah Inggris bersama Indonesia dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkot Surabaya untuk mewujudkan kualitas aksesibilitas anak-anak inklusi dalam berbagai aspek.

“Untuk kebutuhan itu, kerja sama ini perlu juga melibatkan kampus, termasuk UNESA yang memang punya track record dan komitmen di bidang disabilitas. Diskusi ini berkaitan dengan penyamaan persepsi, rencana program dan arah kerja sama ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Unesa Profesor Dr. Nurhasan, M.Kes., menyambut baik diskusi dan kerja sama tersebut.

Menurutnya masalah disabilitas merupakan bagian dari tanggung jawab UNESA.

Itu adalah komitmen kampus “Satu Langkah di Depan” itu sejak awal.

“Teman-teman disabilitas memang harus menjadi perhatian bersama. Kolaborasi ini tentu menjadi angin segar dalam meningkatkan kualitas akses dan layanan inklusi di Indonesia bahkan di dunia,” ucapnya.

Urusan disabilitas, lanjutnya, Unesa tidak hanya bekerja sama dengan UK, tetapi juga dengan berbagai negara lainnya, seperti Kanada hingga Spanyol.

Bahkan saat ini, pihaknya tengah mengembangkan Unesa Disability Inclusion Metric (UDIM) sebagai parameter universal tingkat aksesibilitas penyandang disabilitas di lembaga atau organisasi dunia.

Pengembangan UDIM sampai di tahap pematangan bersama para ahli dan user serta mitra dalam dan luar negeri.

Untuk kolaborasi tersebut, pihaknya akan mengarahkan sumber daya yang ada sehingga tujuan dan harapan bersama dalam kerja sama tersebut dapat tercapai dan terwujud aksesibilitas yang berkualitas bagi anak=anak disabilitas. “UNESA ada Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD), prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB), sarpras ramah disabilitas dan berbagai inovasi di dalamnya,” katanya.

Cak Hasan berharap kerja sama tersebut tidak hanya dalam bidang disabilitas, tetapi juga berkembang dalam berbagai aspek lainnya.

Pertemuan ini dihadiri Wakil Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia, Rob Frenn; Head of Second Cities, Network and Strategy Samuel Hayes; The New Head of Second Cities Farah C; East Regional Outreach Manager Erlin Puspitasari; dan British Honorary Consul Ivy Kamadjaja, Sueb serta jajarannya. Sementara dari UNESA dihadiri rektor, jajaran wakil rektor, dekan, PSLD dan KUI serta lainnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini