Share

Sebab Umum dan Khusus Perang Diponegoro, Pergolakan Besar Hadapi Belanda

Natalia Bulan, Okezone · Kamis 23 Juni 2022 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 22 624 2616217 sebab-umum-dan-khusus-perang-diponegoro-pergolakan-besar-hadapi-belanda-am9KslgBl4.jpg Sebab umum dan khusus Perang Diponegoro

JAKARTA - Berikut ini adalah sebab umum dan khusus dari Perang Diponegoro yang menjdi pergolakan besar saat hadapi Pemerintah Kolonial Belanda.

Perang Diponegoro mulai meletus di Tegalrejo, Yogyakarta dan meluas hampir di seluruh Jawa. Saat itu, para bupati yang berada di bawah pengaruh Mataram pun menyatakan perang terhadap Belanda.

Maka Perang Diponegoro sering disebut Perang Jawa.

Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sultan Hamengku Buwono III yang dilahirkan pada tahun 1785. Saat masih kecil, ia bernama Pangeran Ontowiryo dan hidup bersama neneknya bernama Ratu Ageng di Tegalrejo.

Perlawanan Rakyat Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro adalah pergolakan besar yang dihadapi pemerintah Kolonial Belanda di Jawa.

Pemerintah Belanda sempat mengalami kesulitan saat mengawasi perlawanan ini dan menanggung biaya yang sangat besar.

Berikut ini Okezone himpun sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro, baik sebab umum maupun sebab khusus. Simak selengkapnya di sini!

Sebab-sebab Umum Perang Diponegoro.

 

1. Kekuasaan Raja Mataram yang melemah dan wilayah dipecah-pecah

Karena ulah penjajah Kerajaan Mataram yang besar, di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo terpecah belah menjadi kerajaan yang kecil.

Melalui Perjanjian Gianti tahun 1755, Kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta.

Lalu Perjanjian Salatiga di tahun 1757, muncul kekuasaan baru yang disebut Mangkunegaran dan pada tahun 1813 muncul kekusaan Pakualam.

 

2. Belanda ikut campur

 

Belanda ikut campur dalam urusan pemerintahan dan pengangkatan raja pengganti.

Campur tangan mereka amat dalam mengenai penggantian tahta yang dilaksanakan oleh mereka.

Demikian pula mengenai pengangkatan birokrasi kerajaan. Musalnya pengangkatan beberapa pegawai yang ditugaskan untuk memungut pajak.

 

3. Kaum bangsawan dirugikan

 

Kaum bangsawan merasa rugi karena sebagian besar sumber penghasilannya diambil alih oleh Belanda.

Mereka dilarang menyewakan tanah bahkan diambil alih haknya.

 

4. Adat istiadat keraton yang semakin rusak

Pengaruh Belanda di Keraton semakin besar. Adat kebiasaan Keraton Yogyakarta seperti menyajikan sirih bagi Sultan bagi pembesar Belanda yang menghadap Sultan dihapuskan.

Pembesar-pembesar Belanda duduk sejajar dengan sultan. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah masuknya minuman keras ke keraton dan beredar di kalangan rakyat.

5. Penderitaan rakyat yang makin panjang

Rakyat makin menderita akibat dari berbagai macam pajak.

Ada banyak pajak yang dibebankan ke rakyat seperti pejongket (pajak pindah rumah), kering aji (pajak tanah), pengawang-awang (pajak halaman - perkarangan), pajigar (pajak ternak), pencumpling (pajak jumlah pintu), penyongket (pajak pindah nama), bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan).

Sebab-sebab Khusus Perang Diponegoro

rencana pembuatan jalan yang melintasi tanah makam leluhur pengeran Diponegoro tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Pangeran Diponegoro.

Sebab yang meledakkan perang ialah provokasi yang dilakukan penguasa Belanda seperti merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah Pangeran Diponegoro dan membongkar makam keramat.

Sebagai protes patok-patok (tanda dari tongkat kayu pendek) untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan tombak-tombak.

Residen Smissaert berusaha mengadakan perundingan tetapi, Pangeran Diponegoro tidak muncul, hanya mengirim wakilnya, Pangeran Mangkubumi.

Asisten Residen Chevallier untuk menangkap kedua pangeran, digagalkan oleh barisan rakyat di Tegalreja.

Mereka telah meninggalkan tempat. Pangeran Diponegoro pindah ke Selarong tempat ia memimpin perang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini