Share

BEM Unair Dorong Solusi Pengelolaan Limbah Elektronik

Tim Okezone, Okezone · Kamis 16 Juni 2022 18:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 16 65 2612902 bem-unair-dorong-solusi-pengelolaan-limbah-elektronik-TRFTVG7SxB.png BEM Unair dorong solusi pengelolaan limbah elektronik/Dok. Unair

SURABAYA - Kementerian Hubungan Luar dan Kementerian Lingkungan Hidup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) menggelar webinar yang fokus pada isu limbah pada Sabtu yang lalu melalui zoom meeting.

Melalui webinar bertema 'E-Waste: Environments Destroyer and How to Manage' ini, BEM Unair mendorong adanya solusi alternatif untuk kehidupan.

Khususnya berfokus pada upaya perwujudan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia yang lebih baik ke depan.

Tentang E-Waste

Bram Azzaino selaku perwakilan Tunas Hijau Indonesia memaparkan definisi electronic waste (e-Waste) atau limbah elektronik.

“Jadi, e-waste adalah barang elektronik yang tidak terpakai dan tidak berfungsi dan akhirnya dibuang,” ujarnya dikutip dari laman resmi Unair.

Lebih lanjut, produk-produk yang dikategorikan sebagai e-waste juga dapat diartikan sebagai produk yang sudah dibuang karena rusak, hilang, atau tidak berguna di tempat sampah dan jalan.

Menurutnya, barang-barang e-waste juga dapat diartikan sebagai barang dengan inti dari listrik, baik berupa listrik langsung maupun memakai baterai.

“Baling-baling yang ada lampu LED di pasar malam pun dapat dianggap sebagai e-waste. Jadi, barang barang yang sepele, pokoknya ada konsumsi listrik, maka itu dapat dikategorikan sebagai e-waste,” imbuhnya.

Dampak E-Waste

Menurut Bram, bahaya dari limbah elektronik cenderung besar karena komponen yang menggunakan B3.

Namun, ada beberapa elektronik yang sebelumnya tidak mengandung B3, tapi dalam pengolahannya nanti berakhir menjadi bahan B3.

Salah satu bahan yang sering muncul dalam elektronik adalah litium dan merkuri.

“Kayak di PC itu kan ada CPU-nya. Nah bahan-bahan itu sering dianggap biasa saja oleh orang. Itu dan komponen lain kalau tidak dikelola dengan baik akan sangat berbahaya,” ujarnya.

Salah satu dampak yang dapat dirasakan ketika membakar limbah sembarangan adalah terciumnya aroma tidak sedap.

Asap tersebut dapat memicu polusi udara yang berdampak kepada masyarakat sekitar.

Asap yang terhirup manusia juga memicu risiko kanker dan ketidaksuburan, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Dampak E-Waste, khususnya limbah B3, ungkap Bram, tidak bisa dilihat dari efek jangka pendek.

Seperti halnya limbah merkuri yang dapat mencemari lingkungan sekitar, khususnya tanaman. Salah satunya, beberapa tanaman seperti kangkung dapat menyerap kandungan B3 tersebut.

“Kita harus hati-hati, kangkung, atau tanaman lain yang kita makan ini muasalnya dari mana, apakah dari sawah, pinggir jalan, pertanian, karena (tanaman) ini dapat menyerap segala jenis kandungan di dalam tanah,” katanya.

Terkait dengan solusi limbah elektronik, Bram menuturkan agar dapat mengubah mindset terhadap alat-alat elektronik.

Banyak orang-orang menganggap bahwa elektronik akan dibuang dan tidak terpakai jika tidak dalam keadaan 100 persen baik.

Hal itulah yang menyebabkan sifat konsumtif pada manusia.

“Selain itu juga kita perlu mewajarkan penggunaan elektronik agar tidak rusak dan bagaimana cara memaksimalkannya. Lalu, kalau kita ingin mengganti produk, usahakan ada eco-label nya. Walaupun masih mengandung B3 tetapi masih lebih aman dan cenderung ramah lingkungan,” ujarnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini