Share

Kisah Fientje de Feniks, Wanita Penghibur Tersohor Batavia yang Akhir Hidupnya Tragis

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Selasa 14 Juni 2022 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 14 624 2611439 kisah-fientje-de-feniks-wanita-penghibur-tersohor-batavia-yang-akhir-hidupnya-tragis-rUCAYYpkK7.jpg Kisah tragis Fientje de Feniks/Sampul buku De Moord op Fientje de Feniks, Peter van Zonneveld

JAKARTA - Untuk para penggemar sejarah yang mengulik kehidupan sosial di Batavia era kolonialisme mungkin sudah tidak asing dengan nama Fientje de Feniks.

Sosoknya bahkan diceritakan di novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Rumah kaca yang namanya disamarkan menjadi Rientje de Roo dan penggambarannya tidak spesifik.

Nama Fientje begitu tersohor, ia dikenal sebagai seorang pekerja seks komersial atau wanita tuna susila (WTS) di Batavia.

Wanita yang memiliki paras yang sangat cantik ini bekerja di Oemar Ompong, sebuah rumah bordil di Batavia.

Fientje sendiri adalah peranakan Eropa berwajah Indonesia yang amat sangat memikat. Tak heran jika banyak pria yang tergila-gila padanya dan ingin menghabiskan malam dengannya.

Pelanggan Fientje sebagian besar adalah para pejabat tinggi Belanda dan orang-orang yang memiliki jabatan penting di Batavia.

Berbagai sumber menyebut, Fientje memiliki kulit putih bersih dengan rambut panjang berombak. Di kala usianya baru menginjak 19 tahun, ia sudah menjadi WTS termasyhur di Batavia.

Ia juga mematok tarif selangit bagi siapa pun yang ingin menggunakan jasanya.

Kemasyhuran Fientje sebagai WTS terhenti pada 17 Mei 1912. Ia ditemukan tewas di wilayah Senen, tepatnya di Kali Baru.

Kematian Fientje yang sangat misterius ini menjadi berita besar dan mengguncangkan Hindia Belanda. Ada dua surat kabar yaitu Soerabaische Handelsblad dan Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie, yang meliput dan memuat berita kematian perempuan menawan itu.

Jasad Fientje ditemukan dengan menggunakan sarung dan kebaya. Kematiannya ini merupakan kasus kekerasan hingga menyebabkan kematian pertama yang menyasar WTS di Batavia.

Itulah mengapa, kematian Fientje menyita perhatian khalayak luas ketika itu.

Melansir VOI, bukti fisik yang terlihat di tubuh Fientje menunjukkan bahwa ia tewas akibat dicekik.

Setelahnya, pihak kepolisian langsung melakukan pengusutan dan memanggil pemilik rumah bordil, Oemar, sebagai saksi.

Ketika dimintai keterangan, ia terlihat takut saat menyebutkan nama seorang Belanda bernama Gemser Brinkman.

Kecurigaan pun mengarah ke tuan Belanda itu.

Selama Fientje hidup, Brinkman termasuk sering mengunjungi rumah pelacuran Oemar.

Meskipun banyak perempuan yang siap melayaninya, namun Brinkman tetap memilih Fientje dan enggan tidur dengan yang lain.

Lambat laut, Oemar merasa Brinkman memiliki niat lain dengan ingin menjadikan Fientje sebagai perempuan simpanan.

Oemar menolak keinginan Brinkman tersebut dan terjadilah pembunuhan mengenaskan itu.

Mendengar pernyataan Oemar, polisi tak serta merta percaya. Namun, ada satu keterangan pendukung yang kemudian menegaskan bahwa Brinkman adalah dalang pembunuhan Fientje.

Ialah Rosna, rekan Fientje di rumah bordil Oemar. Rosna menyatakan bahwa Brinkman telah kehilangan akal sehatnya dan mencekik Fientje hingga tewas.

Brinkman lalu menyuap Sabaroedin, sang wedana di Weltevreden dengan nilai 3 ribu gulden.

Ia juga memberikan uang sogokan kepada Asisten Kepala Kejaksaan sebesar 2 ribu gulden.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya ia akan jatuh juga. Begitu bunyi pepatah yang cocok disematkan kepada Brinkman.

Usahanya untuk menyuap pihak-pihak terkait tak membuahkan hasil. Saksi yang memberikan keterangan justru semakin memojokkannya.

Akhirnya, ia divonis penjara dan diganjar hukuman mati. Sebelum tiba di hari eksekusi, Brinkman bunuh diri akibat depresi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini