Share

5 Kisah Mahasiswa Merayakan Lebaran di Luar Negeri, Tanpa Takbir dan Tidak Libur

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 01 Mei 2022 12:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 27 65 2586059 5-kisah-mahasiswa-merayakan-lebaran-di-luar-negeri-tanpa-takbir-dan-tidak-libur-hCI5CAV3YM.jpg Ilustrasi. (Foto: Ant)

JAKARTA - Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran memang selalu jadi momentum paling ditunggu-tunggu setelah satu bulan penuh melaksanakan puasa Ramadan. Di hari Lebaran, kita bisa bersilaturahmi bersama keluarga besar, saling memaafkan, menikmati hidangan khas Lebaran, dan bersama-sama merayakan momen yang hanya terjadi setahun sekali ini.

Namun, bagi mereka yang saat ini sedang menimba ilmu di luar negeri, tentu kenikmatan tersebut tidak bisa sepenuhnya dirasakan. Salah satu cara yang bisa mereka lakukan untuk bertemu keluarga di kampung halaman hanyalah melalui video call atau telepon saja. Berikut ini adakah kisah para mahasiswa yang merayakan Idul Fitri di luar negeri.

• Tidak Ada Libur Lebaran di Italia

Rara Maulina adalah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Sapienza University of Rome Italia. Berdasarkan penuturannya, masjid di Italia tidak buka selain hari Jumat. Jadi, pada Lebaran 2021 lalu, para mahasiswa Muslim di Roma mengadakan salat Idul Fitri sendiri. Selain itu, karena jumlah mahasiswa Muslim di Roma hanya berjumlah 7 orang saja, maka salat Idul Fitri digelar di salah satu apartemen mahasiswa Indonesia tersebut.

Rara juga bercerita, tidak ada libur Lebaran di Italia. Biasanya, sebelum terjadi pandemi COVID-19, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Italia akan mengadakan open house untuk perayaan Idul Fitri. Namun, karena pandemi, dia dan teman-temannya hanya bisa merayakan Lebaran kecil-kecilan dengan makan bersama dan menikmati kue khas Lebaran. Kebetulan di Roma ada supermarket yang menjual kue-kue kering.

• Lebaran Terasa Sepi di Jerman

Seorang mahasiswa Indonesia di Jerman, Falasifa Ajizah, mengaku bahwa Lebaran tahun 2020 lalu di Jerman terasa sepi karena ada pandemi Covid-19. Apalagi, pada saat itu tidak diadakan salat Idul Fitri berjamaah di Apartemen Student. Untuk mengobati rasa rindunya dengan keluarga di Indonesia, biasanya Ajizah akan membuat masakan khas Lebaran.

Ajizah juga akan merayakan bersama teman-teman Muslimnya dengan acara makan bersama. Di Jerman sendiri, mengumandangkan azan dan takbir tidak diperbolehkan, jadi Ajizah sering kali tidak merasa seperti sedang merayakan Idul Fitri.

• Cara Mahasiswi Indonesia di Taiwan Menikmati Lebaran

Mengutip dari laman news.unair.ac.id, mahasiswi Universitas Airlangga (UNAIR) bernama Nudiya Syaif Millah yang sedang menempuh program double degree di Asia University bercerita bagaimana dirinya melewati Lebaran tahun 2020 lalu di Taiwan. Berdasarkan penuturannya, Pemerintah Taiwan termasuk tanggap dalam menghadapi Covid-19 sehingga ketika Hari Idul Fitri dirayakan, sudah tidak ada penambahan pasien positif lagi.

Namun masyarakat diminta harus tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan dengan terus memakai masker di luar rumah. Meskipun tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan meriah seperti halnya di Tanah Air, Nudiya dan teman-teman sesama mahasiswa Indonesia masih bisa saling bersilaturahmi. Mereka bersama-sama merayakan Lebaran dengan membeli kue Lebaran atau memasak masakan Indonesia.

• Merayakan Lebaran di Korea Selatan di Tengah Pandemi

Khiththati, mahasiswa Aceh yang kini menyelesaikan program Magister (S2) di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Seoul, Korea Selatan, mengatakan bahwa dirinya sudah dua tahun menjalani Ramadan dan Lebaran di Korsel. Tati mengaku rindu dengan suasana Lebaran di kampung halamannya di Aceh.

Sama seperti di Indonesia, pemerintah Korea Selatan tidak mengizinkan acara-acara yang bisa memicu kerumunan. Bahkan semasa menjalani puasa, ia berbuka puasa di kampus karena harus menjalani kelas pagi dan malam. Di Korea Selatan, salat Idul Fitri dilakukan di Masjid Besar Itaewon atau Seoul Sentral Mosque. Dikarenakan kuota dalam masjid dibatasi akibat pandemi, banyak jamaah yang menggelar sajadah di luar masjid.

• Tidak Kehilangan Kesan Lebaran ala Indonesia di Selandia Baru

Fikriyatul Falashifah menceritakan pengalaman menjalani Lebaran di Wellington, Selandia Baru. Dia bersyukur bahwa Muslim di Selandia Baru merayakan Lebaran dengan tradisi khas Indonesia, seperti salat Idul Fitri, mendengarkan khutbah, dan halal bihalal.

Seluruh perayaan Lebaran difasilitasi oleh KBRI Wellington dan Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington. Falashifah juga tak lupa mengundang teman-temannya untuk makan bersama dengan menu khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, hingga sirop buah-buahan.

Dilansir dari berbagai sumber:

Alifia Nur Faiza/Litbang MPI

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini