Menurut penjelasan Nurina, konsep kota spons sangat cocok diterapkan di wilayah IKN yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Ia memaparkan, kota spons sendiri merupakan model konstruksi perkotaan guna menjaga air hujan agar tidak langsung bermuara ke laut. “Yakni melalui pembangunan embung dan sumur resapan air,” ungkapnya.
Selain itu, lanjutnya, dalam kota spons juga dilakukan rainwater harvesting atau mengumpulkan dan menyimpan air hujan dalam skala rumah tangga. Hal itu memungkinkan dilakukan karena sudah diaplikasikan di beberapa negara seperti China, Spanyol, Belgia, dan India.
Nantinya, lanjut Nurina, Air hujan yang telah dikumpulkan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari cukup dengan metode filtrasi sederhana. “Filter dapat dibuat dari bahan yang bisa dijumpai di rumah seperti genteng, pasir, arang, kerikil, ijuk dan batu-batuan dan air hasil penyaringan sudah bisa langsung digunakan untuk keperluan sehari-hari namun tidak untuk diminum secara langsung,” ungkapnya.
(Angkasa Yudhistira)