Share

Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Alat Pendeteksi Covid-19, Ini Keunggulannya!

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 05 Januari 2022 09:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 05 65 2527599 dosen-universitas-brawijaya-kembangkan-alat-pendeteksi-covid-19-ini-keunggulannya-W2Xvb2eYcU.jpg Dosen UB kembangkan alat pendeteksi Covid-19 (Foto: Humas UB)

MALANG - Tim akademisi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) tengah mengembangkan alat deteksi hasil metabolisme dari sistem pernapasan dan pencernaan bagi penyintas Covid-19. Alat yang dinamakan UBreath Analysis ini dikembangkan oleh guru besar UB bernama Prof. Drs. Arinto Yudi Ponco Wardoyo, bekerjasama dengan Dr.dr Susanthy Djajalaksan.Sp.P(K), dan Prof. Dr.dr. Teguh Wahju Sardjono, DTM&H., M.Sc.,SPParK.

Menurut Arinto Yudi, alat ini mampu mengidentifikasi dan mengukur konsentrasi zat dari hasil metabolisme sistem pernapasan dan pencernaan melalui embusan napas dalam bentuk gas, partikulat, dan parameter lain yang berjumlah 25.

"Hasil pengukuran dari parameter tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi kondisi dari sistem pernapasan dan sistem pencernaan," kata Arinto melalui keterangan tertulisnya, pada Rabu (5/1/2022) pagi.

UBreath Analysis bekerja dengan mengembuskan napas pada kantong khusus sebelum, kemudian alat ini akan mengukur unsur-unsur yang terkandung dalam udara pernapasan. Alat ini memerlukan waktu antara 2-3 menit untuk mendapatkan hasil.

Baca Juga: 14.217 Pelaku Perjalanan Internasional Jalani Karantina di Jakarta

Alat ini juga telah dikembangkan dan diuji klinisnya kepada orang-orang sehat dan penyintas Covid-19 di RSUD dr. Saiful Anwar Malang dan RS Lapangan Covid-19 Malang dengan total 400 sampel.

"Hasil yang didapatkan yakni alat ini tidak hanya dapat mendeteksi berupa positif atau negatif covid, tetapi lebih spesifik, alat ini bisa mengklasifikasikannya seperti OTG, ringan, sedang, sampai berat,” jelas guru besar Fisika ini.

Dari penelitian yang dilangsungkan sejak akhir 2020 menghasilkan tingkat akurasi mencapai lebih 90 persen. Saat ini alat ini tengah dikembangkan dan uji klinis untuk screening penyakit pernapasan, seperti kanker paru-paru, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bersama tim dari Fakultas Kedokteran.

“Penderita penyakit kanker paru-paru biasanya terlambat mendeteksi karena tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Untuk itu alat ini sangat baik untuk screening awal,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini