Share

BRIN Teliti Pengaruh Cahaya Malam Buatan Terhadap Karakteristik Hewan dan Tumbuhan

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Jum'at 31 Desember 2021 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 31 65 2525618 brin-teliti-pengaruh-cahaya-malam-buatan-terhadap-karakteristik-hewan-dan-tumbuhan-RmqBR8rHCf.jpg Tangkapan layar media sosial

JAKARTA - Badan Riset dan inovasi Nasional (BRIN) melakukan update on progress 3 penelitian mengenai pengaruh ALAN (Artificial Light At Night) atau cahaya malam buatan terhadap perubahan karakteristik hewan dan tumbuhan pada Jumat, (31/12/21).

(Baca juga: Dorong Keterlibatan Swasta, BRIN Integrasikan Sejumlah Lembaga Riset)

Penelitian yang dilakukan di area Kebun Raya Bogor tersebut dilakukan oleh lintas bidang organisasi riset (OR) BRIN bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sudah berlangsung sejak bulan Oktober.

Dr. Imam Hidayat selaku peneliti pada Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan inisiasi BRIN untuk mengetahui dampak cahaya malam buatan bagi hewan dan tumbuhan.

(Baca juga: Begini Cara BRIN Tingkatkan Riset di Indonesia)

"BRIN berinisiatif untuk menginisiasi melakukan kajian ilmiah, bagaimana pengaruh aktivitas manusia khususnya cahaya dalam hal ini terhadap fungsi fisiologi pertumbuhan dari tumbuhan itu sendiri dan terhadap hewan yang hidup di tumbuhan itu sendiri, sejauh mana pengaruhnya dan apa saja yang dipengaruhi, dan apakah itu positif atau negatif. Itu bisa menjadi informasi dasar bagi para pengelola taman, hutan raya ataupun kebun raya untuk membuat atau mengambil kebijakan batasan-batasan apa saja yang nanti bisa dilakukan di dalam menyediakan atau menyelenggarakan layanan wisata tipe seperti ini," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan kewajiban menyampaikan informasi secara ilmiah kepada masyarakat.

Menurutnya, ini menjadi kewajiban BRIN sebagai lembaga ilmiah untuk bisa menyajikan itu secara ilmiah kepada masyarakat secara terbuka sehingga masyarakat paham.

"dampaknya ini, oh ini yang terkena dampak itu tumbuhan a,b atau hewan atau populasinya menurun. Nah hal-hal itu perlu dikaji mendalam supaya secara ilmiah kita bisa bertanggung jawab terhadap apa yang kita sampaikan, jangan sampai kita menyampaikan informasi berdasarkan perkiraan. BRIN selaku lembaga riset punya kewajiban untuk menyajikan itu dengan seakurat mungkin dengan seilmiah mungkin dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan," ulasnya.

Selain itu, Dr. Yan Riyanto selaku Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati juga menambahkan, bahwa besar harapannya penelitian ini menjadi referensi bagi BRIN untuk mengelola kebun raya.

"BRIN sudah mengelola 5 Kebun Raya Nasional dan kedepannya akan bertambah terus. Akan dibuka juga kebun raya yang akan dibuka di Serpong dan Kebumen, jadi ini merupakan pelaksaan tugas melakukan konservasi tumbuhan dan penelitiannya,”ujarnya.

“Oleh karena itu memang sangat membutuhkan data-data empiris di lapangan yang bukan cuma katanya-katanya tapi memang betul-betul dari hasil pengukuran konservasi dan seterusnya. Ini tentu kedepan akan dijadikan sebagai deadline kebun raya yang ada di Indonesia dan daerah. Sehingga Kebun Raya Bogor dapat menjadi referensi bagi BRIN untuk mengelola kebun raya lainnya,"pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini