Tim UI Raih Medali Emas di Kompetisi Rekayasa Genetika Internasional iGEM 2021

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 26 November 2021 13:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 65 2507847 tim-ui-raih-medali-emas-di-kompetisi-rekayasa-genetika-internasional-igem-2021-WoFXYQoI75.jpg Tim UI raih medali emas di iGEM 2021 (Foto: UI)

JAKARTA – Tim International Genetically Engineered Machine (iGEM) Universitas Indonesia (UI) 2021 menghadirkan sebuah alternatif terapi untuk infeksi H. pylori. Mengusung judul Helicostrike, proyek ini berfokus merancang bakteri E. coli yang dapat menghancurkan biofilm (benteng pelindung) H. pylori dan membunuhnya.

Diketahui, H. pylori merupakan bakteri patogen yang mendiami lambung pada hampir separuh penduduk dunia. Di Indonesia, berdasarkan penelitian Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD–KGEH, MMB, FINASIM, FACP, peneliti utama H. pylori study group Indonesia yang juga merupakan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sebanyak 1 dari 5 orang terinfeksi H. pylori. Lebih lanjut, kejadian infeksi kuman ini ditemukan lebih tinggi pada etnis Bugis, Batak, dan Papua. Penelitian Ari juga menunjukkan resistensi antibiotik pada infeksi H. pylori di Indonesia mencapai lebih dari 40%.

“Kami memodifikasi bakteri E.coli melalui rekayasa genetika untuk dapat membunuh bakteri H. pylori, penyebab tukak lambung, gastritis kronik, hingga kanker lambung yang setiap tahunnya mengakibatkan lebih dari 700 ribu kematian. Helicostrike juga merupakan salah satu upaya mengatasi resistensi antibiotik yang mulai mengkhawatirkan dalam terapi H. pylori konvensional karena hadirnya biofilm,” ujar Kevin Tjoa selaku Ketua Tim iGEM UI 2021.

 Baca juga: Mahasiswa FTUI Berhasil Raih 3 Gelar Kompetisi Net Zero Healthy Building

Rancang desain ini juga ditujukan untuk bersifat lebih nyaman untuk pasien. “Kami mengupayakan jika Helicostrike sudah menjadi produk, produk ini dapat dikonsumsi dalam bentuk yoghurt sehingga lebih mudah, enak, dan nyaman dikonsumsi dibandingkan obat pada umumnya, tetapi tetap memiliki efektifitas yang tinggi,” ujar Kevin menambahkan.

Baca juga: UI Apresiasi Terbitnya Permendikbud Ristek tentang PPKS

Selain itu, dengan adanya rancang desain ini diharapkan pengobatan pasien dapat berjalan dengan efektif-efisien tanpa menggunakan banyak obat, karena pengobatan konvensional saat ini menggunakan terapi kombinasi yang terdiri atas tiga hingga empat obat dengan lama pengobatannya mencapai 10-14 hari. Banyaknya jenis obat yang harus dikonsumsi dan panjangnya waktu konsumsi antibiotik ini dapat membuat kepatuhan berobat rendah, tidak mengonsumsi antibiotik hingga tuntas, dan berakibat meningkatnya resistensi antibiotik.

Empat belas anggota tim iGEM UI terdiri atas sembilan orang mahasiswa Fakultas Kedokteran: Kevin Tjoa, Fransiskus Mikael C., Angelina Clarissa, William Nathaniel, Benedictus Ansel S., M. Afif Naufal, Firda Izzain B., Violine Martalia, Teshalonica Mellyfera. Selain itu tim juga terdiri dari tiga orang mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Samuel Febrian Wijaya, Gert Antonio Tobing, dan Hans Mahadhika serta satu orang mahasiswa Fakultas Teknik: Madelestin Melhan, dan satu orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi: David Su.

Dalam Giant Jamboree iGEM Competition 2021 yang dilangsungkan di Paris pada 4-14 November 2021, Tim iGEM UI dianugerahi Gold Medal Prize. Ini merupakan Gold Medal keempat yang iGEM UI dapatkan dalam selama keikutsertaan dalam ajang tersebut sejak tahun 2013.

Seluruh proses penelitian dilakukan di bawah bimbingan Dr. dr. Budiman Bela, Sp.MK(K) (Departemen Mikrobiologi FK UI) serta dibantu oleh segenap tim peneliti dari Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi (PRVKP) FKUI. “Prestasi ini merupakan hal yang luar biasa mengingat tentu tidak mudah melakukan persiapan untuk kompetisi ini dalam suasana pandemi yang banyak membatasi kegiatan kita, terlebih lagi tim terdiri atas mahasiswa dari berbagai latar belakang dan fakultas” ujar Budiman. Tim besutannya juga menjadi tim asal Indonesia satu-satunya yang meraih hibah Frederick Gardner Cottrell Foundation. “Medali emas ini tentunya membuktikan bahwa melalui kerjasama dan sinergi, generasi muda Indonesia bisa bersaing dan perlu diperhitungkan di dunia internasional,” tambah Budiman.

"FKUI selalu mendorong para mahasiswanya, bukan saja mahasiswa magister atau Doktor untuk melakukan berbagai penelitian untuk memecahkan masalah kesehatan bukan saja masalah nasional, tetapi juga masalah global. Keberhasilan ini menunjukan kepedulian para mahasiswa untuk memecahkan masalah kesehatan ini termasuk masalah penanganan kuman H. pylori penyebab orang sakit maag, dari ringan sampai berat, perdarahan lambung karena tukak lambung atau usus dua belas jari sampai kanker lambung," kata Ari menambahkan.

Situasi pandemi memang membawa kesulitan tersendiri bagi tim. “Kesulitan yang paling kami rasakan adalah kami tidak dapat bertemu langsung dan mengerjakan proyek kami di laboratorium basah/wet lab. Sehingga kami berusaha lebih keras untuk dapat membuktikan bahwa desain yang kami kerjakan memiliki efektifitas yang tinggi dengan modelling dari dry lab (perhitungan komputer) saja,” tambah Kevin. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, tim melakukan telaah literatur secara luas dan mendalam, melakukan berbagai diskusi dan wawancara bersama para senior dan ahli, serta belajar dan bekerja lebih keras sampai menemukan formulasi yang tepat. “Pencapaian ini adalah hasil kerja keras bersama sebagai satu tim. Kami sangat bersyukur dapat memberikan yang terbaik mewakili UI dan Indonesia. Semoga di masa mendatang lebih banyak anak muda berprestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa, terutama di bidang biologi sintetik dan rekayasa genetika yang sedang berkembang pesat,” tutup Kevin.

Proyek riset ini diharapkan tidak berhenti hanya setelah kompetisi berakhir, tetapi berlanjut untuk terus dikembangkan hingga dapat menjadi produk yang masuk ke pasaran sembari menelurkan publikasi-publikasi ilmiah seiring pengembangan produk.

iGEM merupakan sebuah kompetisi rekayasa genetik dan biologi sintetik tahunan yang diadakan oleh iGEM Foundation, sebuah organisasi non-profit internasional yang berpusat di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. iGEM berawal dari student project yang dilakukan di kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang kemudian dikembangkan hingga akhirnya menjadi kompetisi sintetik biologi terbesar di dunia. Tahun ini, kompetisi iGEM diselenggarakan secara daring dan melibatkan lebih dari 352 tim yang berasal dari lebih 40 negara.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini