Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pencari Kerang Tempuh Perjalanan ke Desa Terpencil untuk Tingkatkan Literasi Anak

Hana Purwadi , Jurnalis-Rabu, 10 November 2021 |16:01 WIB
Pencari Kerang Tempuh Perjalanan ke Desa Terpencil untuk Tingkatkan Literasi Anak
A
A
A

PROBOLINGGO - Seorang mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur layak menjadi pejuang literasi di era saat ini. Meski hidup sebagai pencari kerang, dia optimis bisa menebarkan semangat membaca kepada anak-anak di pelosok negeri, terutama di daerah yang tak tersentuh akses literasi, baik digital maupun konvensional.

Muhammad Amir Hamzah. (22 tahun), mahasiswa semester tujuh Universitas Negeri Surabaya sehari-hari mengendarai sepeda motor ke pelosok desa dengan membawa bekal buku bacaan. Pria asal Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo itu mendatangi desa-desa untuk meminjamkan buku sebagai sumber pengetahuan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

BACA JUGA: Terima Bantuan MNC Peduli, Pendiri Rumah Baca: Menambah Semangat Belar Anak-Anak

Begitu sampai di rumah warga yang dituju, Amir langsung membagi-bagikan buku bacaan kepada anak-anak desa setempat. Saat itu juga, mereka belajar dan membaca bersama seputar buku bacaan yang dibawa Amir.

Amir menamai kegiatan ini sebagai Rumah Baca Cahaya, dia ingin menebarkan semangat membaca kepada anak-anak desa. Sesuai dengan namanya, setelah membaca buku yang merupakan jendela dunia, anak-anak ini mendapat cahaya penerang tentang indahnya dunia.

BACA JUGA: Jauhkan Anak-Anak dari Gadget, Puluhan Pemuda Gelar Pustaka Alam Terbuka

Salah satu desa yang menjadi tujuan Amir adalah Desa Poh Sangit, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo sebagai lokasi rumah baca cahaya, Ini bukan tanpa alasan, Desa Poh Sangit berada di pelosok yang jauh dari jangkauan teknologi, tidak ada sinyal ponsel yang masuk ke desa ini. Jangankan ponsel, buku bacaan saja sulit ditemui.

Melalui kegiatannya dalam Rumah Baca Cahaya ini, Amir meyakinkan bahwa semangat belajar, semangat membaca, dan juga semangat literasi masih ada di negeri ini. Dia berharap bahwa semangat ini terus membara untuk membawa mereka ke jenjang yang lebih berguna.

Melalui jaringan yang dimiliki, Amir akhirnya mengumpulkan para donatur yang peduli dengan dunia literasi. Mereka diharapkan bisa membantu dengan menyumbangkan buku bacaan untuk anak-anak desa ini.

Rumah Baca Cahaya dirintis sejak tahun lalu, ketika pandemi Covid-19 mulai melanda. Anak-anak diajak belajar bersama tentang materi pelajaran di sekolah dan juga pengetahuan lain di sekitar mereka.

Menariknya, kegiatan ini mendapat respon positif dari para orang tua. Mereka mengaku sangat mendukung kegiatan yang dilakukan Amir kepada anak-anak saat berada di rumah.

Namun, di balik perjuangan sekaligus pengorbanan Amir ini, siapa sangka dia adalah seorang pekerja keras. Amir adalah seorang pencari kerang di Pantai Tongas, Kabupaten Probolinggo.

Setiap siang hari dia berangkat dari rumahnya sambil membawa jaring dan alat tangkap lain. Amir menyusuri Pantai Tongas saat air surut dan menggali pasir untuk mendapatkan kerang.

Pekerjaan inilah yang kemudian menjadi pemicu baginya untuk menebarkan semangat kepada anak-anak di pelosok desa. Dia tidak ingin masa muda dihabiskan dengan berleha-leha, namun harus bekerja keras untuk menggapai cita-cita.

(Rahman Asmardika)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement