Share

Bahas Kedaireka, Atdikbud Canberra Jembatani Pertemuan Peneliti Indonesia dan Australia

Tim Okezone, Okezone · Selasa 09 November 2021 18:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 09 65 2499256 bahas-kedaireka-atdikbud-canberra-jembatani-pertemuan-peneliti-indonesia-dan-australia-i4JuwDswH1.jpg Atdikbud KBRI Canberra Mukhamad Najib saat acara Strategic Talk "Innovation and Collaboration Through Kedaireka". (Ist)

Sementara itu, Profesor Swinburne University of Technology sekaligus Presiden IARNA, Akbar Ramdhani, mengungkapkan IARNA merupakan jaringan peneliti dan akademisi di Australia yang memiliki ketertarikan dengan Indonesia.

“IARNA ingin menjembatani kolaborasi peneliti di Indonesia dan Australia serta menjembatani hasil-hasil penelitian kampus agar bisa diimplementasikan di dunia industri,” tutur Akbar.

Ia berharap, diskusi seperti ini dapat terus bersama-sama membuka peluang kolaborasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas riset bersama.

Ketua Tim Kerja Akselerasi Kampus Merdeka dan Koordinator Kedaireka, Achmad Adhitya, mengungkapkan bahwa pemerintah sangat mendorong pengembangan inovasi sebagai kekuatan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Belanda, contohnya, dia negara yang wilayahnya kecil, tapi mampu menjadi salah satu eksportir pertanian terbesar di dunia,” ujar Adhitya.

Achmad menerangkan, hal ini dapat terjadi karena kekuatan inovasi yang dikembangkan Belanda. “Mereka sangat serius mengembangkan teknologi dan inovasi pertanian, sehingga bisa menghasilkan produk pertanian dengan kualitas dan kuantitas yang berkali lipat, dan menjadi eksportir terbesar di dunia,” ujar Adhitya.

Adhitya menjelaskan, Kebijakan Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo, ditujukan untuk mendukung Kampus Merdeka, dan setelahnya dilanjutkan dengan peluncuran Kedaireka.

“Salah satu tantangan dalam ekosistem inovasi di Indonesia adalah keterbatasan akses. Dari 3.000 kampus yang dijajaki, hanya 5% kampus yang memiliki akses untuk bekerja sama dengan industri secara berkelanjutan. Jadi, artinay ada 95% kampus yang kesulitan untuk mendorong agar hasil penelitiannya termanfaatkan oleh industri,” ucap Adhitya.

Saat ini, ia menambahkan, sudah ada 3.143 perusahaan yang tergabung dalam platform Kedaireka dan secara organik, hampir 40 perusahaan yang bergabung setiap harinya. “Perusahaan terdiri dari perusahaan multinasional, nasional, maupun perusahaan daerah,” ucap Adhitya.

Selain itu, dilanjutkan Adhitya, Kedaireka tengah mendorong kolaborasi dengan lembaga internasional melalui diaspora, di antaranya dengan CSIRO, sebuah lembaga penelitian di Australia. “Totalnya, sudah ada 20.548 pengguna terdaftar di platform Kedaireka, 1.050 proposal matching fund dengan total nilai yang diajukan sebesar Rp 1,4 triliun, dan kontribusi industri sebesar Rp 1,1 triliun,” ungkap Adhitya.

Dosen IPB Penerima Hibah Kedaireka, Meika Syahbana Rusli, menilai, “Selama ini memang kampus dan industri sering tidak ketemu. Kedaireka merupakan salah satu solusi untuk memfasilitasi kolaborasi kampus dan industri,” ucap Meika.

IPB, diakui Meika, pada 2021 menerima hibah sebesar Rp 24 miliar dari Kemendikbudristek dan Rp 34 miliar dari perusahaan swasta, sehingga totalnya dana hibah yang didapatkan berjumlah hampir Rp 60 miliar. “Dana sebesar itu untuk membiayai 34 proposal hilirisasi temuan-temuan yang sudah dimiliki oleh IPB,” tutur Meika.

Dosen UNS Penerima Hibah Kedaireka untuk pembelajaran matematika, Farida Nurhasanah, mengungkapkan pengalamannya. “Kedaireka sangat membantu saya selaku dosen yang berfokus pada metode pembelajaran matematika untuk berkolaborasi dengan perusahaan pembuat permainan pembelajaran,” papar Farida.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini