Awal Oktober, Hujan Meteor Terbungsu 'Arid' Akan Terlihat dari Bumi

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 08 Oktober 2021 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 08 65 2483192 awal-oktober-hujan-meteor-terbungsu-arid-akan-terlihat-dari-bumi-fOHl8JZQph.jpg Ilustrasi hujan meteor (Foto: Gulf News)

JAKARTA - Hujan meteor terbaru akan terlihat dari Bumi pada pekan ini. Hujan meteor tersebut belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Hujan meteor ini mulai menyembur sejak sepekan silam dan saat itu para astronom memprediksi puncak aktivitasnya akan terjadi beberapa hari ke depan.

Baca Juga: 5 Dampak Ditemukan Komputer dalam Bidang Iptek, Apa Saja?

 Peneliti Pusat Riset Sains Antariksa (Pussainsa) Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang menyebut hujan meteor ini terlihat redup melalui instrumen radar bagi beberapa wilayah paling selatan di belahan selatan Bumi yang masih bisa dihuni manusia seperti Argentina, Chile dan Selandia Baru.

“Hujan meteor umumnya memang terjadi setiap tahun ketika debu komet maupun asteroid berpotongan dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari. Untuk kasus hujan meteor terbungsu ini, justru debu komet 15P/Finlay, sebagai objek induk (parent body) hujan meteor tersebut, tidak pernah berpotongan dengan orbit Bumi," ujar Andi melalui siaran pers, Jumat (8/10/2021).

"Hal ini dikarenakan ukuran debu komet yang kecil, ditambah pula dengan angin surya dari Matahari yang dapat mengubah posisi debu komet menjadi bergeser dari posisi semula,” imbuhnya.

Baca Juga: Daftar Negara yang Jadikan Riset Sebagai Panglima Sains

Andi menjelaskan, awalnya, hujan meteor ini dinamai “Finlay-id” berdasarkan nama objek induknya. Penamaan ini tentu mengingatkan dengan hujan meteor Draconid yang semula dinamai Giancobinid, sesuai nama penemunya. Konfirmasi pengamatan terbaru menunjukkan bahwa hujan meteor tersebut muncul dari konstelasi Ara, konstelasi di langit selatan yang terletak di antara konstelasi Centaurus, si manusia kuda dan Lupus, si serigala.

Konstelasi ini dinamakan Ara yang dalam Bahasa Latin berarti altar atau pedupaan dikarenakan figur bintang yang menyerupai altar. Oleh karenanya, hujan meteor ini dinamakan Arid, sesuai lokasi kemunculan hujan meteor tersebut. Nama ini sudah ditambahkan ke dalam Daftar Kerja Hujan Meteor IAU (Uni Astronomi Internasional) berdasarkan laporan pengamatan tertanggal 1 Oktober 2021 oleh Biro Pusat untuk Telegram Astronomi di Universitas Harvard.

“Anda dapat menyaksikan hujan meteor Arid sejak senja bahari (20 menit setelah terbenam Matahari) dari arah Selatan-Barat Daya hingga Barat Daya selama 3,5 jam hingga pukul 21.30 waktu setempat. Sedangkan yang berada di belahan utara tetap berkesempatan menyaksikan hujan meteor ini, meskipun lokasi pengamatan terbaik hujan meteor ini berada di belahan selatan Bumi,” tutup Andi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini