Kesan dan Pesan Kocak Wisudawan ITB: Jadi Kaum Dhuafa Wi-Fi hingga Terbiasa Sakit Hati

Vanessa Nathania, Okezone · Sabtu 25 September 2021 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 25 65 2476791 kesan-dan-pesan-kocak-wisudawan-itb-jadi-kaum-dhuafa-wi-fi-hingga-terbiasa-sakit-hati-yseDh6iXhE.JPG pembacaan pesan dan kesan wisudawan ITB (Foto: Ist)

JAKARTA - Seorang wisudawan ITB, Davin berhasil menghibur rektor, dosen, dan wisudawan lainnya melalui materi pesan dan kesan para wisudawan yang dibacakan oleh rektor.

Video yang sudah ditonton oleh ribuan orang di internet ini menunjukkan proses wisudaan yang dilaksanakan oleh kampus ITB. Meski tidak diketahui pasti angkatan berapa para wisudawan tersebut, namun dari video tersebut diketahui bahwa rektor ITB sedang membacakan pesan dan kesan yang dibuat oleh para wisudawan.

Salah satu tulisan wisudawan yang dibacakan dalam sesi tersebut adalah Davin Kurniawan. Davin merupakan wisudawan dari prodi fakultas manajemen SDM dan lulus dengan predikat cumlaude.

Hal yang menarik adalah isi dari tulisan yang ia buat, kesan dan pesan yang dia tulis dibacakan oleh sang rektor dan setelah mendengar isi tulisannya, semua orang yang di sana tertawa dan merasa terhibur.

Ia menyebutkan hobinya adalah belajar, namun belajar yang dimaksud adalah belajar untuk bermain game online, nonton anime, dan yang lucu adalah belajar menerima kenyataan bahwa dia bukan miliknya lagi.

Baca Juga: Akhir September, ITB Mulai Uji Coba Perkuliahan Tatap Muka

Setelah membacakan hobi Davin, sang rektor pun tertawa dan menanggapinya dengan mengatakan, “Davin, ini mumpung masih di ITB gitu, mudah-mudahan dapat penggantinya.”

Para wisudawan dan hadirin sontak tertawa kembali mendengar tanggapan sang rektor.

Selain hobi, hal unik lainnya adalah kesan dan pesan yang Davin berikan, ia mengatakan, mengerjakan pekerjaan kebut semalam merupakan kekayaan khas Bangsa Indonesia yang patut dilestarikan.

Pengalaman lain yang sangat berkesan adalah saya bersyukur walau Tuhan menciptakan saya dengan wajah yang unik dan minimalis, tetapi di ITB inilah saya bertemu dengan seorang wanita yang menjadi tambatan hati saya, tetapi sayangnya jarak dan waktu tidak menakdirkan saya untuk tetap bersama wanita tersebut, lanjut isi dari kesan dan pesan Davin.

Davin juga menyebutkan suka duka belajar di ITB, pertama ia mengatakan sukanya, ITB menyediakan fasilitas belajar lengkap, lokasi strategis dekat dengan pusat perbelanjaan, dan jajanan melimpah.

Setelah itu sang rektor berkomentar, “Laki-laki suka juga belanja ya.” Satu ruangan tertawa mendengar celetukan rektor tersebut.

Dukanya, di ITB masih ada dosen yang beranggapan bahwa nilai sempurna itu mustahil, kesempurnaan itu hanyalah untuk Tuhan, namun Davin percaya bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Kelucuan yang dibuat Davin tidak hanya berhenti di situ, ia juga menambahkan “negatifnya” belajar di ITB, menurutnya studi di sana membuat dia dan teman-temannya menjadi kaum dhuafa wifi karena keterbatasan ruang belajar di ITB yang tidak dibuka sampai malam.

“Banyak mahasiswa ITB yang menjadi kaum dhuafa wifi saat malam hari di beberapa rumah makan cepat saji tanpa memesan apapun.” Kata Davin dalam surat kesan dan pesannya.

Lagi-lagi satu ruangan dibuat terhibur olehnya. Ia bahkan menutup surat kesan dan pesannya dengan pantun.

Selain Davin, wisudawan ITB lainnya yang bertingkah lucu melalui surat kesan dan pesannya adalah Juang Bela Negara, prodi fakultas kelautan (FTSL).

Membacakan namanya saja, sang rektor sudah memberikan komentar dengan mengatakan, “Jadi orang tuanya luar biasa memberi namanya, juang bela negara, memang doanya harus keras seperti ini, karena berikutnya kesan dan pesannya agak bertolak belakang.”

Tidak heran jika isi dari kesan dan pesannya memang menghibur.

Ia menyebutkan hobinya adalah menunda apa yang tidak bisa ditunda, “jadi pantes orang tuanya menamakan juang, berjuang terus ini.” Celoteh sang rektor setelah membacakan hobinya.

Juang juga menyampaikan bahwa dirinya terbiasa belajar berkelompok, dengan sistem satu orang belajar dan yang lainnya bermain, termasuk dirinya. Sontak satu ruangan pun tertawa.

Isi kesan dan pesan Juang dilanjutkan dengan menyebutkan pengalaman main dirinya yang sangat berkesan, yaitu bisa lulus dengan teman seangkatan yang sama-sama suka menunda. Ia juga menambahkan cita-citanya dalam karir adalah dapat posisi yang tidak dapat diperintah oleh orang lain.

Selain itu, sang rektor juga mengungkapkan bahwa cita-citanya dalam hidup sangat luar biasa, yaitu ketika sudah tua, pagi-pagi menikmati secangkir kopi sambil melihat-lihat foto-foto saat muda, terutama saat masa kuliah.

Sang rektor secara blak-blakan mengomentari, “jadi sudah membayangkan tua ini” terhadap cita-cita Juang, hadirin yang mendengar sontak tertawa bersama.

Ia menutup kesan dan pesannya dengan motto, jangan menunda pekerjaan apapun, di mana hal ini sangat kebalikan dengan hobi yang disebutkan sebelumnya. Mendengar itu, satu ruangan tertawa dan bertepuk tangan mengapresiasi isi pesan dan kesan Juang.

“Jadi memang perlu perjuangan ini, Dek Juang” kata sang rektor.

Juang menutupnya dengan pesan supaya mahasiwa ITB lainnya jangan selalu memandang ke atas, tetap memandang ke bawah, di mana ada mahasiswa-mahasiswa seperti dirinya yang satu kampus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini