Kemendikbudristek Beri Klarifikasi Tentang Isu Kluster Covid-19 di Sekolah

Neneng Zubaidah, Koran SI · Jum'at 24 September 2021 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 65 2476374 kemendikbudristek-beri-klarifikasi-tentang-isu-kluster-covid-19-di-sekolah-NGq771t9FG.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, Jumeri menyampaikan klarifikasi mengenai isu kluster Covid-19 di sekolah.

"Terkait dengan pemberitaan yang viral saat ini di media bahwa terdapat 1.296 kluster Covid di sekolah ini perlu kami luruskan, perlu diklarifikasi, dijelaskan kembali miss persepsi yang terjadi," katanya pada konferensi pers daring, Jumat (24/9/2021).

 Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka Berpotensi Timbulkan Klaster Covid-19, Haruskah Kembali Daring?

Jumeri menjelaskan, terkait dengan isu kluster Covid-19 di sekolah setidaknya ada 4 kesalahpahaman mengenai isu kluster PTM Terbatas yang beredar di masyarakat.

Pertama, angka 2,8 % yang dipublikasikan sebelumnya bukanlah data kluster Covid-19 di satuan pendidikan. Melainkan itu adalah data sekolah-sekolah yang melaporkan warganya ada yang tertular Covid-19 melalui aplikasi Kemendikbudristek.

"Ini hal pertama yang perlu dipahami bersama. Jadi sekali lagi 2,8 persen itu adalah sekolah-sekolah yang melaporkan warganya ada yang tertular covid," terangnya.

Baca juga:  Bolehkah Anak dengan Penyakit Komorbid Sekolah Tatap Muka?

Dia menjelaskan, hal ini perlu dipahami bersama bahwa laporan data sekolah yang warganya terkena Covid-19 itu juga diminta sejak Juli 2020 hingga September 2021.

Selain itu, Jumeri menerangkan, belum tentu juga penularan Covid-19 yang terjadi di satuan pendidikan itu terjadi pada sekolah yang sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Sebab, katanya, dari 46.500 sekolah yang sudah melakukan pelaporan yang diminta Kemendikbudristek itu ada sekolah yang sudah melakukan PTM Terbatas dan ada yang belum menggelar PTM Terbatas. "Ini hal kedua yang perlu kami tegaskan," ujarnya.

Kemudian, dia menerangkan, angka 2,8 % sekolah yang warganya terkena Covid-19 itu juga bukanlah akumulasi dari satu bulan terakhir atau akumulasi dari masa pemberlakukan PTM terbatas setelah masa PPKM darurat.

Data tersebut adalah akumulasi sejak Juli 2020 atau Tahun Ajaran 2020/2021 sampai dengan Tahun Ajaran 2021/2022 atau September ini.

"Itu kira-kira masa 14 bulan perjalanan pembelajaran di Indonesia baik yang PTM dan belum PTM. Ini hal ketiga yang perlu kami tegaskan," katanya.

Kemudian terkait data ada 15.429 siswa dan 7.307 guru yang positif Covid-19 yang berasal dari laporan 46.500 sekolah itu adalah data yang belum terverifikasi sehingga masih ditemukan banyak kesalahan.

Misalnya ada sekolah yang memasukkan data jumlah guru yang terkena Covid-19 itu melebihi jumlah guru yang ada di sekolah itu. "Sehingga itu perlu kami luruskan bahwa angka-angka guru pun perlu kami berikan klarifikasi," ujarnya.

Jumeri mengakui, untuk melakukan pendataan langsung ke lapangan ke semua sekolah itu sangat berat. Oleh karena itu, solusi kedepan adalah saat ini Kemendikbudristek dan Kementerian Kesehatan sedang melakukan ujicoba sistem pendataan baru dengan memakai aplikasi PeduliLindungi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini