Bikin Bangga! Ini 5 Fakta Peneliti UGM Adi Utarini Masuk 100 Orang Berpengaruh di Dunia

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Selasa 21 September 2021 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 21 65 2474351 bikin-bangga-ini-5-fakta-peneliti-ugm-adi-utarini-masuk-100-orang-berpengaruh-di-dunia-4zq9duwqBQ.jpg Foto: dok ugm

JAKARTA - Kabar membanggakan datang dari Universitas Gajah Mada (UGM), salah satu Akademisi UGM masuk daftar 100 orang berpengaruh di dunia tahun 2021 versi majalah TIME yang dirilis pada Rabu, 15 September 2021.

Berikut ini lima fakta menarik berprestasinya Akademisi UGM Prof dr. Adi Utarini, MSc., MPH, PhD yang dilansir dari laman resmi UGM, Senin (21/9/2021).

(Baca juga: Lambang Pancasila: Makna Bintang, Rantai, Pohon Beringin, Kepala Banteng, Padi dan Kapas)

1. Meneliti Teknologi Wolbachia

Akademisi Universitas Gadjah Mada bernama Prof Adi Utarini atau yang akrab disapa Prof Uut adalah peneliti sekaligus Guru Besar FKKMK UGM, ini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh 2021 versi majalah Time.

Prof Uut ini masuk kategori pionir karena memimpin penelitian teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue di Yogyakarta bersama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta.

(Baca juga: Inovatif! 4 Mahasiswi Cantik UGM Ini Ciptakan Snack Bar Anti-Obesitas)

2.Penelitannya Bermanfaat bagi Masyarakat

Prof. Uut merasa sangat bersyukur namanya masuk 100 orang berpengaruh di dunia. Menurutnya, merupakan berkah dari Allah Ta’ala bagi tim penelitian kami di World Mosquito Program Yogyakarta.

“Ini adalah apresiasi bagi peneliti-peneliti dan seluruh tim yang telah terlibat dalam penelitian, juga mitra kami yaitu Monash University, World Mosquito Program Global, dan Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi yang mendukung penuh penelitian ini. Serta apresiasi bagi masyarakat Yogyakarta yang telah sangat terbuka dengan inovasi, dan pemerintah daerah Yogyakarta yang mendukung penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat lebih luas, untuk mengurangi beban masyarakat karena dengue,” tutur Prof. Uut.

3. Alumni Fakultas Kedokteran UGM

Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tahun 1989, beliau kemudian menyelesaikan gelar master di bidang Kesehatan Ibu dan Anak dari University of College London pada tahun 1994 (British Council Awards), Master of Public Health pada tahun 1998 (STINT Awards), dan Doctor Filsafat dari Umea University Swedia pada tahun 2002 (STINT dan TDR Awards).

Pada tahun 2011 beliau dianugerahi sebagai profesor di bidang Kesehatan Masyarakat. Beliau mengajar kursus kebijakan dan manajemen mutu serta metode penelitian.

Di bidang mutu pelayanan kesehatan, beliau memimpin divisi mutu di Ikatan Rumah Sakit Indonesia dan redaktur utama Jurnal Akreditasi Rumah Sakit terbitan KARS bersama PKMK UMG.

Selain itu, beliau adalah anggota Dewan Riset Nasional (2015-berjalan) dan sebelumnya menjabat sebagai wakil dekan untuk penelitian, pengabdian masyarakat dan kerjasama di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (2012-2016).

Sebelum masuk dalam daftar 100 orang berpengaruh di dunia, beliau pernah masuk ke dalam daftar 10 ilmuwan berpengaruh dunia menurut jurnal ilmiah Nature.

4. Mengenal Penelitian Teknologi Wolbachia

Dr. Riris Andono Ahmad, M.P.H., Ph.D, Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM, menyampaikan bahwa penelitian pengembangan teknologi Wolbachia telah dimulai sejak tahun 2011. Menurutnya, fase awal penelitian dilakukan untuk memastikan keamanan Wolbachia, dilanjutkan dengan pelepasan di area terbatas.

Selanjutnya, dr. Riris menjelaskan bahwa di tahun 2017, uji efikasi Wolbachia dengan metode Randomised Controlled Trial dilakukan di Kota Yogyakarta dengan membagi wilayah Yogyakarta menjadi 24 klaster, dengan 12 klaster mendapatkan intervensi Wolbachia, dan 12 klaster lainnya menjadi area pembanding.

Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat pada 60% serangga, dan hanya hidup di dalam serangga.

Hasil uji efikasi Wolbachia ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, yaitu Wolbachia efektif menurunkan 77% kasus dengue, dan menurunkan 86% kasus dengue yang dirawat di rumah sakit.

Wolbachia dalam Aedes aegypti bekerja dengan menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga saat nyamuk menggigit manusia, tidak terjadi transmisi virus dengue.

5. Harapan UGM

UGM berharap selanjutnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dapat mulai mengadopsi teknologi Wolbachia ini sebagai salah satu strategi nasional dalam pengendalian berdarah dan berharap penelitian WMP Yogyakarta ini dapat menginspirasi para peneliti di Indonesia untuk semakin giat melakukan penelitian yang dapat menjawab tantangan bangsa dan dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini