Mahasiswa Lakukan Penelitian terhadap Siput Gonggong, Hasilnya Cukup Mengejutkan!

Antara, · Sabtu 21 Agustus 2021 11:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 20 65 2458750 mahasiswa-lakukan-penelitian-terhadap-siput-gonggong-hasilnya-cukup-mengejutkan-nk1yv586bJ.jpg Siput Gonggong (foto: Dok Okezone)

TANJUNGPINANG - Seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Kafabihi menemukan mikroplastik di bagian pencernaan gonggong, hewan laut yang menjadi makanan khas masyarakat Kepulauan Riau.

"Saya melakukan penelitian terhadap gonggong selama empat bulan di perairan Pegudang, Sebong Pereh dan Sebong Lagoi. Hasilnya cukup mengejutkan karena ditemukan sampah mikroplastik di tubuh hewan laut yang kerap dikonsumsi masyarakat," kata Kafa, di Tanjungpinang.

Baca juga:  LIPI Minta Peneliti Ahli Utama Cari Anggaran Eksternal untuk Riset

Kafa melakukan penelitian untuk kepentingan skripsi. Penelitian dilakukan di pasir sepanjang perairan di perairan Pegudang, Sebong Pereh dan Sebong Pereh, Lagii, Bintan.

Gonggong hidup di atas pasir. Gonggong yang merupakan ikon Kota Tanjungpinang menyerap organik yang berada di pasir.

Baca juga:  Pakar: Vaksin Selamatkan 50 Juta Nyawa, Tapi Covid-19 Ancam Kemajuan Masa Depan

Kafa menduga pasir tempat gonggong berkembang biak tersebut sudah tercemar mikroplastik sehingga dikonsumsi oleh gonggong. Mikroplastik itu berasal dari sampah plastik yang mencemari perairan. Sampah plastik itu pun semakin malam semakin kecil hingga menjadi mikro.

Semua gonggong yang diteliti terkontaminasi mikroplastik. Lokasi Pegudang menjadi lokasi terparah dengan tingkat polutan pada gonggong sebesar 88%. Bahkan ada 22 partikel berbahaya di dalam setiap gonggong.

"Gonggong tidak mati ketika menyerap mikroplastik, melainkan bisa bertahan," ujarnya.

Kafa mengaku tertarik meneliti gonggong lantaran hewan laut ini merupakan salah satu menu utama yang dijual di restoran "seafood", yang paling diminati. Bahkan gonggong kerap dipromosikan kepada wisatawan domestik dan wisman.

Harga gonggong yang direbus, yang dijual pedagang mencapai Rp70.000-Rp90.000, juga cukup tinggi sehingga menarik untuk diteliti. Gonggong juga merupakan spesies gastropoda endemik yang hanya ditemukan di Perairan Kepri dan Bangka Belitung.

"Gonggong juga menjadi bahan pangan seafood terbanyak dikonsumsi setelah kerang-kerangan," ucapnya.

Ia mengatakan, pengolahan gonggong sebagai bahan makanan harus lebih higienis. Merebus gonggong harus dengan menggunakan garam dapur serta memisahkan dari cangkangnya untuk meminimalisir rantai polutan tingkat manusia.

"Untuk benar-benar bersih dan higienis, rasanya tidak mungkin. Namun untuk meminimalisir polutan dalam gonggong, hanya dengan merebusnya dengan garam dapur dan memisahkan dari cangkangnya," ujarnya. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini