Mengenal Mahasiswa UNS Arfemy Yoana, dari Atlet Panahan hingga Menjadi Mbak Jateng

Tim Okezone, Okezone · Rabu 04 Agustus 2021 16:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 04 65 2450871 mengenal-mahasiswa-uns-arfemy-yoana-dari-atlet-panahan-hingga-menjadi-mbak-jateng-GpSkLID8UA.jpg Mahasiswa UNS, Femy saat menjadi Mbak Jawa Tengah (foto: Dok pribadi/UNS)

SOLO - Banyak prestasi yang ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Salah satunya seperti yang pernah diraih oleh Arfemisantya Yoana Ramadhani, mahasiswa Program Studi D-4 Demografi dan Pencatatan Sipil (DPS) Sekolah Vokasi (SV) UNS.

Femy sapaan akrab Arfemy Yoana pernah dinobatkan sebagai Mbak Sukowati Kabupaten Sragen, Mbak Jawa Tengah pada tahun 2018, dan berhasil masuk ke 5 besar Duta Wisata Indonesia pada tahun yang sama.

Baca juga:  Mahasiswa UNS Kembangkan Pertanian Urban untuk Angkat Perekonomian Masyarakat

Sebelum memulai langkahnya dalam dunia pageant, Ia merupakan seorang atlet panahan di Kabupaten Sragen. Femy sering mewakili Sragen dalam berbagai kompetisi di tingkat provinsi. Hal ini yang menjadi nilai tersendiri karena Ia awalnya seorang atlet kemudian terjun ke dunia pageant dengan berbagai macam kesuksesan. Tentu, bukan hal mudah dalam menyesuaikan dari seorang perempuan yang tomboy menjadi lebih feminism.

Awal Mula Menjadi Atlet Panahan

Mahasiswa kelahiran Desember tahun 2000 tersebut mengawali kariernya di dunia panahan pada akhir 2014. Ia mengenal olahraga tarik busur tersebut dari Ayahnya, setelah mencoba ternyata Femy tertarik untuk menekuni panahan.

Femy UNS

Baca juga:  Rumah Sehat 2 UNS Siap Digunakan untuk Isoman Covid-19

“Dulu aku kan akselerasi, nah ada pembatasan buat ikut kegiatan nonakademik. Setelah lulus SMP pengin nyari kegiatan nonakademik yang bisa buat balance antara akademik dan nonakademik. Aku coba ikut anjuran Ayah buat ikut panahan. Awalnya cuma komunitas kecil, terus diperhatikan sama KONI Sragen, lalu diberi pelatih, pembinaan, dan diberi alat,” ungkapnya seperti dilansir dari uns.ac.id.

Kompetisi pertama yang Ia ikuti yaitu Kejuaraan Provinsi kategori U-15 di Semarang. Namun, dalam kompetisi perdananya Ia belum membawa pulang hasil juara. Beberapa prestasi yang pernah Femy raih dalam olahraga panahan antara lain.

- Juara 2 Panahan Putri Ronde Nasional POPDA Tahun 2016, Juara 2 Panahan U16 Putri Jarak 30m PORKAB Sragen, Juara 2 Panahan U16 Putri Jarak 40m PORKAB Sragen dan Juara 2 Panahan U16 Putri Jarak 50m PORKAB Sragen.

Baca juga:  Cegah Atlet Difabel Alami Hipoksia, UNS Buat Masker Aerator

Menjadi seorang atlet harus siap dengan berbagai konsekuensi, terlebih panahan merupakan olahraga yang dilakukan di luar lapangan, di bawah terik matahari. Salah satu pengalaman paling berkesan Femy yaitu saat Kejurprov 2015 di Semarang. Saat pertandingan dimulai, cuaca sangat cerah dan terik, kemudian pada pukul 13.00 WIB tiba-tiba hujan deras, sementara pertandingan harus tetap berjalan dan tidak dapat ditunda. Jadi, Ia memanah sambil hujan-hujanan.

 Femy UNS

“Udah ditunda setengah jam tapi hujan ga reda, sementara perlombaan harus tetep lanjut. Pagi sampai siang badan udah panas kena sinar matahari, pas hujan kita ngiup sebentar. Terus selama 2 jam dari jam 1 sampai jam 3 manah sambil hujan-hujanan karena ga bisa dipending. Dari jam 3 sampe jam 4 lebih hujan reda dan panas, jadi badan dari panas, hujan, basah ke panas lagi. Di badan rasanya ga karuan, pulang dari itu sakit,” kenang Femy.

Menapaki Dunia Duta Wisata

Awal mula Femy tertarik mengikuti ajang duta wisata karena saat Ia meraih juara di PORKAB Sragen, Ia melihat duta wisata pada saat itu sedang bertugas. Selain itu, Ia juga termotivasi oleh tantenya yang pernah menjadi Duta Wisata Sragen pertama pada tahun 1990.

“Seru ya liat kakak-kakak duta wisata, bisa ikut event di kabupaten, cantik-cantik, ganteng-ganteng. Punya pengalaman lebih dari yang lain, kenapa aku ga nyoba ke arah sana,” kenangnya.

Setelah lulus SMA dan mulai memasuki dunia perkuliahan, Femy memberanikan diri untuk mengikuti pemilihan Duta Wisata Kabupaten Sragen 2018.

“Pertama ya susah rasanya, dari atlet panahan gambling buat bisa terjun ke dunia duta. Apalagi waktu itu aku masih kaya bisa engga ya, bisa engga ya seorang cewek tomboy ikut ajang seperti ini,” katanya.

Dari Atlet Menjadi Duta Wisata

Dua dunia yang berbeda antara olahraga dan dunia duta wisata tentu membuat Femy harus melakukan penyesuaian.

“Seperti dua kepribadian berbeda, yang satu seorang atlet di lapangan, anak bau matahari, kalau yang satu lebih jaga image, wangi, lebih berpenampilan, dan lebih menarik untuk dipandang. Tapi kemudian gimana sih cara aku untuk bisa mengubah itu. Nah,  aku ikut kelas modelling karena dari jiwa yang tomboy ga mungkin bisa switch semudah itu,” ungkap Femy.

 Femy UNS

Femy benar-benar melangkah dari nol karena sebelumnya Ia tidak pernah mengikuti kompetisi serupa. Bahkan, Ia juga tidak memiliki rok selain rok sekolah.

“Percaya ga percaya kalau ada orang nanya wah Femy dari dulu udah gini-gini nih. Engga, buat jadi duta harus belajar banyak, dari nol, belajar catwalk, duduk yang baik, aku dulu bungkuk. Terus belajar biar enak ketika dipandang orang, kita juga belajar materi, public speaking, itu semua harus dipelajari buat menjadi seorang duta,” terangnya.

Ia benar-benar mempelajari semuanya dari nol karena paham betul bahwa dalam kompetisi tersebut akan bertemu berbagai pemuda hebat dari berbagai wilayah di Sragen. Femy mengibaratkan ketika hendak berperang harus memiliki amunisi.

“Masa iya kita mau perang tapi ga punya amunisi. Mau mati di medan perang? Jadi harus mempersiapkan diri sebaik mungkin,” ujar mahasiswa semester 7 tersebut.

Ia juga sempat minder karena bertemu dengan finalis hebat yang memiliki segudang prestasi, sebagian juga sudah berkuliah dan bekerja, sedangkan Femy saat itu masih berusia 17 tahun.

“Bocah yang baru aja dari panahan terus belajar buat jadi duta pasti ada rasa insecure, ada rasa minder. Tapi kan balik lagi kita harus yakin, insecure itu ketika hanya berpoin pada kelemahan kita. Buat apa gitu loh, semua dari kita punya kelebihan masing-masing, ya tunjukan itu jangan tunjukin insecurity yang bikin orang ga percaya sama diri sendiri. Gimana orang lain percaya  kalau kita ga percaya sama diri sendiri,” ungkapnya.

Berkat persiapan yang matang serta rasa percaya diri terhadap kelebihan yang bisa Femy maksimalkan, Ia berhasil dinobatkan menjadi Mbak Sukowati tahun 2018. Hal ini berarti Ia akan melaju pada Pemilihan Mas Mbak Jawa Tengah pada tahun yang sama. Dalam pemilihan Mas dan Mbak Jawa Tengah, Ia berpasangan dengan Ridho Sutan Prayoga.

Sempat Diremehkan

 

Perjuangan Femy yang berhasil alih haluan dari atlet menjadi Duta Wisata Sragen tentu sempat mengejutkan berbagai orang di sekitarnya. Ia bercerita bahwa sehari setelah dinobatkan, Ia langsung bertugas. Namun, belum ada 1 x 24 jam usai penobatan, datang omongan negative yang mengatakan bahwa kemenangan Femy karena ayahnya bekerja di Pemda Sragen. Hal ini sempat membuat Femy down, terlebih kalimat tersebut dilontarkan salah satu finalis lain.

Namun, Ia berusaha membuktikan bahwa apa yang dikatakan temannya tersebut salah. Ia berhasil meraih gelar sebagai Duta Wisata Sragen berkat kerja keras yang dilaluinya.

“Dari situ harus ngebuktiin, aku ga bisa menutup omongan mereka, aku punya 2 tangan yang cuma bisa nutup telinga aku. Lama-kelamaan nutup telinga pasti orang-orang akan ngomong hal yang sama, dari sini aku membuktikan melalui Mas Mbak Jateng.  Dengan aku menang di Mas Mbak Jateng, aku bisa ngebuktiin kalau omongan mereka salah dan hanya iri dengki belaka,” ungkapnya.

Semua proses, usaha, dan tangisan, semuanya membuahkan hasil luar biasa.

“Kamu harus berpsoses, kalau bisa jalan berdarah-darah pun pasti harus dilakuin karena balik lagi, ga ada hasil yang menghianati usaha. Apalagi ketika kamu bisa menang terus melihat orang tua tersenyum bahagia melihat anaknya berprestasi, itu sebuah momen yang luar biasa,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa dukungan orang tua menjadi salah satu sumber energi terbesarnya.

“Alhamdulillah punya keluarga yang support 100 persen apapun yang aku perjuangkan, yang penting apa yang aku lakukan itu positif, tidak merugikan sekolah ataupun akademik. Orang tua selalu dukung, bahkan nganterin ke manapun aku bertugas atau pas aku butuh apa orang tuaku selalu ayo orang tua pasti bantu,” pungkas Femy. (din)

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini