Pemanfaatan Biomassa sebagai Sumber Energi di Masa Depan

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 09 Juli 2021 09:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 09 65 2437972 pemanfaatan-biomassa-sebagai-sumber-energi-di-masa-depan-7CjPUAz3lo.jpg foto: ist

SOLO - Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I-4) bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Webinar I-4 Edisi Ketiga pada Kamis (8/7/2021).

(Baca juga: Duh! Terpapar Covid-19, Bule Seksi Ini Malah Berkeliaran di Bali)

Sebelumnya, yakni pada edisi pertama dan kedua, webinar I-4 mengusung tema Geothermal Energy dan Hydrogen Energy. Sementara pada edisi ketiga ini, tema yang diambil adalah Pemanfaatan Biomassa untuk Sumber Energi Masa Depan. Berkaitan dengan tema tersebut, I-4 menghadirkan tiga pembicara di antaranya Mochamad Soleh, M.Eng, Dr. Eng. Pandji Prawisudha, dan Dr. Jundika Candra Kurnia.

(Baca juga: Peristiwa 9 Juli: Kemerdekaan Argentina hingga Hari Pencoblosan Pilpres 2014)

“I-4 itu adalah organisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional yang mana anggotanya bisa dari Indonesia maupun dari Internasional dan kami mempunyai program-program seperti seminar di bidang energi dan di bidang-bidang lainnya,“ ujar Ketua Klaster Energi dari McGill University, Kanada, Agus Pulung Sasmito.

Pemanfaatan Biomassa untuk Sumber Energi Masa Depan menjadi tema yang diusung pada Webinar I-4 Edisi Ketiga lantaran adanya isu mengenai larangan perizinan pembangunan Pembangkit Listrik Tenanga Uap (PLTU) berbasis batubara oleh pemerintah terhitung sejak tahun 2025 sebagaimana tertuang dalam draft RUPTL 2021-2030.

Dikatakan Khasani sebagai akademisi dari UGM, hal tersebut dapat menimbulkan masalah karena selama ini PLTU berbasis batubara digunakan sebagai sumber energi yang memasok energi lainnya. Meskipun rencana tersebut masih menjadi wacana dan menuai pro-kontra, diskusi webinar I-4 menjadi wadah untuk melihat potensi dan kesiapan biomassa dari berbagai aspek, misalnya sumber, teknologi produksi, regulasi bisnis, dan lain-lain.

Melalui materi berjudul Pemanfaatan Biomassa/ Limbah di Pembangkit Listrik, Mochamad Soleh, menambahkan, bahwa bahan baku bio-energi bisa diperoleh dari tanaman (Biofuel Crops dan Plantation) dan sampah (Municipal Solid Waste). Biofuel Crops sering dikenal dengan etanol atau bio-diesel bisa diperoleh dari tanaman singkong, surgum, tebu, kelapa sawit, kemiri sunan, dan nyamplung. Sementara Plantation bisa berasal dari Woody Biomass dan Agricultural Waste atau limbah dari pertanian.

“Ada dari sekam padi, ada juga misalkan cangkang sawit yang sudah cukup popular. Kemudian yang baru dan yang sedang diujicoba adalah tandan kosong. Harapan kita ke depan mungkin kalau ada adalah limbah tebu,” ungkap Mochamad Soleh selaku Kepala Bidang Riset, Inovasi, dan Knowledge Management PT. Indonesia Power.

Sementara itu, pilihan bahan bakar yang lebih variatif dapat diperoleh dari sampah. Mochamad Soleh menuturkan bahwa sampah bisa langsung dibakar menjadi direct combustion atau diolah lebih lanjut manggunakan proses mechanical, thermo chemical, bio-chemical, dan mechanical biological. Proses tersebut dapat mengubah sampah menjadi beberapa bentuk, misalnya solid fuel, liquid fuel, dan gaseous fuel.

“Yang menjadi tantangan kita ke depan adalah kalau memang mau menggunakan biomassa sebagai bahan bakar memang akan bersaing dengan market,” imbuhnya,

Saat ini, harga biomassa di Indonesia masih cukup rendah. Sementara harga produk lainnya baik dari industri kimia maupun farmasi cukup tinggi.

Soleh menuturkan bahwa tantangan selanjutnya adalah bagaimana mendapatkan sumber energi biomassa yang mencukupi baik dari jumlah maupun harga.

Sementara itu, co-firing juga telah dilakukan oleh PT. Indonesia Power dan PLN Group. Menurut Mochamad Soleh, baik PT. Indonesia Power dan PLN Group telah mengadopsi direct co-firing. Co-firing merupakan pembakaran dua jenis bahan bakar atau lebih dari material yang berbeda dalam satu sistem pembakaran yang sama. Metode direct co-firing merupakan metode yang paling murah dan paling umum digunakan. Akan tetapi, metode direct co-firing hanya mampu menampung sampai dengan 5%.

“Kalau untuk co-firing dengan jumlah yang lebih tinggi akan ada masalah di supply chain dan full handling di lapangan,” tutup Soleh.

Hal yang sama juga disampaikan Pandji Prawisudha, Koordinator Riset, Inovasi dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung tersebut menuturkan bahwa Indonesia memiliki potensi limbah biomassa yang cukup tinggi, yakni sebanyak 4 juta ton.

Jika dibandingan dari berbagai sumber, tumbuhan padi, jagung, singkong, sawit, kelapa, tebu, dan coklat merupakan 7 komoditi terbesar baik dari segi produksi biomassa maupun limbahnya.

“Kalau dilihat, limbah sawit lebih besar daripada capaian produksinya. Dengan demikian, sampahnya sebetulnya lebih banyak. Begitu juga dengan jagung dan coklat,” jelas Pandji Prawisudha.

Tidak hanya limbah dari tumbuhan, limbah dari industri peternakan juga bisa diolah menjadi biomassa. Industri peternakan menghasilkan gas rumah kaca yang cukup tinggi, yaitu berupa gas metana sehingga dapat mengakibatkan terbentuknya efek rumah kaca. Bahkan kotoran hewan ternak juga dapat menimbulkan masalah yang cukup besar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini